Kamis, 10 Desember 2009

merenung-renung

kemaren sebuah berita mengagetkan kami terima, seorang teman 'berpulang' mendadak di sebuah kantor redaksi koran biru di ibukota. memang kami tak dekat, tapi kami punya keterkaitan dalam sebuah proyek pada suatu waktu. dan bos kedua pernah berusaha merintis kembali kerjasama dengan orang itu, namun masih dalam tingkat idea, belum berlanjut, teman itu telah berpulang.

saat mendengar kabar itu, aku sedikit kaget krn nyaris merasa pertemuan terakhir mengisyaratkan akhir hidupnya. wajah lelah, badan habis, dia berusaha hidup sehat dan kuat.

namun underline dari 'kepergian'nya yang aku rasakan betul menjadi sebuah perenungan adalah sikap shock anak istrinya di bandung krn ayah dan suami mereka meninggal terentang saat berada jauh lebih dari 140 kilometer jauhnya.

sampai maghrib, bos kedua menawariku ikut bersamanya menemani sang istri dan anak menjemput jasad teman kami. aku tersadar. bagaimana kalau itu adalah suamiku?

lelah bekerja dari senin sampai jumat, bertemu untuk bersenang-senang di akhir pekan. kembali terus begitu. rutinitas serupa kami alami dalam tiga bulan terakhir. sapa nyana jika suatu saat terjadi seperti itu, maut menjemput saat berpisah.

jikalau dekat, sapa tau anak, istri, suami, kerabat, sahabat bisa membimbing sakaratul maut. tapi kalau jauh, hanya bisa berdoa semoga selalu ada orang baik lainnya yang menggantikan 'peran' itu.

hidup memang sangat rahasia. hingga kita tak tahu siapa sebenarnya yang benar2 membantu prosesi menghadap sang khalik, di pemakaman, sampai mendoakan kita saat kelak sudah meninggal.

karenanya sekali lagi, nggak basi aku mengingatkan diri sendiri untuk lebih beradab memperlakukan banyak manusia. karena kedekatan, keeratan dan kesetiakawanan bisa jadi sama sekali tak membantu kita kemudian kelak. justru orang-orang terpilih tanpa pamrih menjadi 'pengantar' terbaik di akhir hidup....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar