anak-anak dikirimi hiasan tempel dinding yang menempel seperti poster --entah apa nama kerennya-- oleh sepupu mereka di bandung....sebelumnya aku dan hubby memasang poster sejenis di kamar kami biar tampak 'segar'. anak-anak senang memasangnya. tidak lebih dari 30 menit untuk memasang poster yang semi puzzle krn berbentuk potongan2 yang merangkai sebuah gambar besar....
tapi ternyata walaupun kalimat 'life is beautiful' sangat cantik didengar...anak2 ingin poster dipasang 'bersih' dari tulisan (mungkin karena mereka sudah merasa cukup merasakan hidup indah itu terasa di dada :P)
sementara hubby merasa sayang membuang kalimat itu. sehingga dengan ide 'miring'nya dia memasang sisa poster di pintu masuk toilet :D
life is beautiful kiddos if u really know that life is not just to eat but how well its waste bwahahahaaa :P
Jumat, 02 November 2012
bertetangga
mendapati banyak keluarga muda menjadi tetangga kami di kompleks pemukiman kecil di tengah penduduk Betawi pinggiran menjadi hal baru. saat tinggal di tanah kelahiran, kami bertetangga dengan banyak penduduk senior sehingga kami belajar menjadi orang muda yang berteman dengan orang tua.
tanpa persiapan apapun, kini kami harus belajar ilmu baru berteman dengan orang-orang muda yang cukup emosional, sulit menentukan nilai hidup sebenar, dengan persaingan materi antar rumah tangga yang mencolok. kebanyakan mereka memiliki kendaraan sebelum memutuskan membeli rumah. gaya hidup mereka sangat berbeda dengan kami.
kami berdua sangat senang berada di rumah. bercengkrama dengan anak-anak. main masak-masakan, makan bersama di teras belakang atau bermain basket bersama. kami merasa di sini menjadi kelaurga utuh. sehingga akhir pekan benar-benar dijadikan momen menuntaskan kegelisahan sang ayah yang kehilangan banyak waktu bersama di hari kerja.
tetangga depan rumah, kadang meninggalkan empat anaknya (mungkin sudah terbiasa), sementara kedua orang tuanya pergi. tak terlalu memperhatikan apakah anak-anak sudah sarapan, makan siang, makan malam...semua urusan adalah urusan pembantu.
tapi aslinya kami merasa perlu menularkan semangat sulung tetangga depan yang hebat untuk ukuran anak kelas 6 SD menjaga adik-adiknya. dia selalu mengajak serta tiga adiknya kemanapun dia pergi. itu contoh yang bagus buat anak2 kami.
aku tak bisa memberikan apresiasi berlebih. dari keluarga depan rumah kami belajar bagaimana membiasakan anak mandiri, ternyata. aku sangat senang melihat mereka melahap sekedar penganan tahu goreng krispi, bakwan, sosis gulung mie, ato apa saja yang aku biasa buat utk kudapan anak-anak. mungkin apresiasi yang sangat minimal. ato hanya sekedar menceritakan ihwal suatu kejadian di sekitar, berita-berita televisi yang sangat sering ditanyakan anak sulung mereka.
sementara ada spasangan memiliki lima anak yang anak sulungnya baru kelas 3 SD. terbayang sulitnya mereka mengasuh anak-anak --sementara ibu bapak bekerja--dengan pertolongan hanya satu asisten rumah tangga yg pulang hari. ruarrr biasa. sama denganku, mereka meliburkan asisten rumah tangga mereka pada akhir pekan.
nah, lain soal dengan tiga keluarga yang masing-masing punya anak satu. aneh. ibu mereka tinggal di rumah punya asisten rumah tangga full-time untuk mengasuh hingga membereskan semua pekerjaan rumah. tapi ternyata asisten-asisten mereka berganti-ganti.
so much fun to learn about neighbourhood around....our treatment of other people make the difference on how people treat us....enjoy the life, kiddos...growing up with every single of each others faults and strengths to make the best of u :*
tanpa persiapan apapun, kini kami harus belajar ilmu baru berteman dengan orang-orang muda yang cukup emosional, sulit menentukan nilai hidup sebenar, dengan persaingan materi antar rumah tangga yang mencolok. kebanyakan mereka memiliki kendaraan sebelum memutuskan membeli rumah. gaya hidup mereka sangat berbeda dengan kami.
kami berdua sangat senang berada di rumah. bercengkrama dengan anak-anak. main masak-masakan, makan bersama di teras belakang atau bermain basket bersama. kami merasa di sini menjadi kelaurga utuh. sehingga akhir pekan benar-benar dijadikan momen menuntaskan kegelisahan sang ayah yang kehilangan banyak waktu bersama di hari kerja.
tetangga depan rumah, kadang meninggalkan empat anaknya (mungkin sudah terbiasa), sementara kedua orang tuanya pergi. tak terlalu memperhatikan apakah anak-anak sudah sarapan, makan siang, makan malam...semua urusan adalah urusan pembantu.
tapi aslinya kami merasa perlu menularkan semangat sulung tetangga depan yang hebat untuk ukuran anak kelas 6 SD menjaga adik-adiknya. dia selalu mengajak serta tiga adiknya kemanapun dia pergi. itu contoh yang bagus buat anak2 kami.
aku tak bisa memberikan apresiasi berlebih. dari keluarga depan rumah kami belajar bagaimana membiasakan anak mandiri, ternyata. aku sangat senang melihat mereka melahap sekedar penganan tahu goreng krispi, bakwan, sosis gulung mie, ato apa saja yang aku biasa buat utk kudapan anak-anak. mungkin apresiasi yang sangat minimal. ato hanya sekedar menceritakan ihwal suatu kejadian di sekitar, berita-berita televisi yang sangat sering ditanyakan anak sulung mereka.
sementara ada spasangan memiliki lima anak yang anak sulungnya baru kelas 3 SD. terbayang sulitnya mereka mengasuh anak-anak --sementara ibu bapak bekerja--dengan pertolongan hanya satu asisten rumah tangga yg pulang hari. ruarrr biasa. sama denganku, mereka meliburkan asisten rumah tangga mereka pada akhir pekan.
nah, lain soal dengan tiga keluarga yang masing-masing punya anak satu. aneh. ibu mereka tinggal di rumah punya asisten rumah tangga full-time untuk mengasuh hingga membereskan semua pekerjaan rumah. tapi ternyata asisten-asisten mereka berganti-ganti.
so much fun to learn about neighbourhood around....our treatment of other people make the difference on how people treat us....enjoy the life, kiddos...growing up with every single of each others faults and strengths to make the best of u :*
Minggu, 26 Agustus 2012
a new beginning
after 38 years lived in my hometown, biggest decission has been made. i moved to another town near Jakarta. here I'm as WTS (wanita turut suami :P) with 3 lil girls starting a new beginning as a 'normal' family...
it should be a hardest part of life when you have to start everything at 38 years old, but already passed.
i dont hope any spectacular leap in my last career whether i moved closer to my head office.i decided to work from home by majoring housewife as my primary career.
then, i helped my friends to write and edit some books to publish, receiving some orders as ghost writers as usual, making some feature stories, while enjoying another job as online seller....and of course, still working form distance as local media analyst for two big companies. all orders done on the sidelines cooking, taking care of my girls and hubby, and all household business...
busy already. but happy then to keep on eyes my lil girls growing up minute to minute :)
it should be a hardest part of life when you have to start everything at 38 years old, but already passed.
i dont hope any spectacular leap in my last career whether i moved closer to my head office.i decided to work from home by majoring housewife as my primary career.
then, i helped my friends to write and edit some books to publish, receiving some orders as ghost writers as usual, making some feature stories, while enjoying another job as online seller....and of course, still working form distance as local media analyst for two big companies. all orders done on the sidelines cooking, taking care of my girls and hubby, and all household business...
busy already. but happy then to keep on eyes my lil girls growing up minute to minute :)
Langganan:
Komentar (Atom)







