Rabu, 28 Oktober 2009

ih ada namaku di namanya

baru aja liat profile mantan yang invite di FB. jadi inget zaman SMP sampe kuliah, ini orang paling rajin ngirim surat, poto-poto kegiatan (siga humas wae), hampir sebulan sekali. dia udah jadi dokter berkelas, konon, yang tinggalnya di cikeas deket sama rumah presiden.

ada rasa bangga saat chatting dia menceritakan 'keberadaan' ato 'kebendaannya' sekarang. no sirik at all, tapi itu sungguh meneguhkan hatiku kalo alloh gak memilihkan dia buatku. bukan type gue banget lah yawww!!

when heard it, i'm trully feeling so in love with my simple man, yang keriting n adem sama 'benda-benda' begituh.

tapi ya itulah, penasaran aja pengen liat profile-nya di FB. and u kno', ternyata di tengah nama istrinya ada nama --aku--nya.

ding dong banget kalo aku inget tujuh taon lalu, saat mengandung si sulung.

aku dapet sms dari orang seprofesi yang katanya suka sama aku but gak kesampean (katanyaaa dalam sebuah email)

nah orang seprofesi ini invite aku dateng ke nikahan dengan perempuan yang ternyataa...nama perempuannya ada unsur namaku juga.

yah aku menganggap sebuah kebetulan bukan sebuah kebanggan. nggak sampe kepikiran begitu apalagi kalo ngukur badan bengkak-ku sekarang :D
walo jadi agak 'lebay' merasa diri di 'atas angin' sehingga meraba-raba dan mencurigai,"jangan-jangan setiap mereka manggil nama-nama istrinya yang kepikiran adalah wajahku yang manis dan lucu (zaman SMP sampe kuliah dulu in a simple mode)." heheheeheee

Selasa, 27 Oktober 2009

status akademik

waktu tau kalo hamil si 'bebe' dalam perut ini pertengahan juli, aku agak terpukul. betapa tidak saudara-saudara, saat itu aku sedang mendaftar belajar lagi di almamater lama karena berniat memanfaatkan tawaran mengajar di jurusanku dulu.

tapi aku merasa saat ini keputusan antara sekolah lagi, tetap bekerja dengan mengabaikan anak-anak adalah suatu hal yang gak mungkin. meski agak sulit toh aku harus menerima realitas jalan hidup yang aku pilih. apalagi hubby dipindah lagi ke ibukota, gak bisa bantu ngasuh dari senen-jumat.

ya saat itu aku merasakan satu perasaan amat rumit yang aku alami sepanjang berumahtangga nyaris 8 taon.

hubby sih benar2 membebaskan jalan pilihanku. tapi aku juga musti tau diri dengan jalan rumah tangga yang sudah dari awal jadi pilihanku untuk menjadi menjalankan fungsi perempuan seutuhnya yang sudah dipilihkan tuhan.

aku pun mengubur cita-cita yang satu, berkonsentrasi kembali pada khitah yang sudah dipilih lama. kadang banyak godaan membuat hidup tidak fokus, tapi benar-benar aku minta ditunjukan yang terbaik buatku dan tentu keluargaku tersayang.

satu saat dalam masa transisi itu, aku ketemu dengan bu sirikit, ahli mass media dari suroboyo yang terkenal itu.

saat itu aku diajak bos mendapat pencerahan ilmu soal analisis media untuk keperluan bisnis yang sedang dijalankan. bos mendatangkannya dari surabaya untuk berbincang sekitar tiga jam.

setelah ngalor ngidul ngobrol dan sempat memboncengkan beliau beli oleh2 ke kartikasari dago, di perjalanan aku baru kepikiran nanya saat usia berapa taun beliau dapat gelar S2-nya dari London? entengnya dia jawab 43 taon.

hah? setua itu ambil S2. ya apa urusannya, dulu anak-anaknya juga masih pada sekolah dan masih butuh perhatian, jadi dia kerja sambil ngopenin anak. begitu anak-anak besar, barulah kepikiran meningkatkan status akademik.

secaranya dia praktisi media juga, aku pikir orang akan lebih melihat status akademiknya ketimbang pengalaman praktisnya seperti yang banyak orang pikirkan soal memajukan karier.
eh ternyata aku salah. bu sirikit kumpulkan banyak dulu pengalaman, pengajaran dan nilai-nilai kepraktisan sampe dia akhirnya dapat tawaran rewards S2-nya.

aku pikir setiap orang punya kebebasan menentukan prioritas hidupnya dan jangan menyerah untuk berbuat dulu baru mengambil rewards-nya kemudian.

jadi apapun aku sekarang karena mengedepankan agenda 'keluarga' (ato dalam status apapun yang nggak 'dilirik' orang), aku menjalaninya dengan senang. aku akan punya tiga anak, melengkapi kelucuan dan kekocakan hidup yang aku miliki. sesuatu yang sangat mahal dan nggak semua ibu mendapatkan keistimewaan itu. aku harus tetap bersyukur masih diberi rewards lain untuk bisa tetap menulis dan bekerja untuk orang lain mengasah semua kapasitas otak.

walo tanpa tambahan status akademik, kayaknya biasa-biasa aja akhirnya. hasil analisis media-ku masih dipake perusahaan amerika, hasil tulisanku juga masih dibaca orang.

aslinya pada bulan kelima si 'bebe' ada di perut, aku sama sekali udah lupa sama mimpi
menggebu mengejar kenaikan status akademik yang entah kapan lagi bakal kudapat mimpi itu :P

aku mengamini betul apa kata hubby kalo aku selalu bilang aku sirik dia banyak kesempatan pergi ke luar negeri. "ini kan cuma soal panggilan, kalo kata alloh yang terbaik kita harus pergi ya pasti pergi. tapi kalo kata alloh gak baik, sampe usaha gimanapun kayaknya pasti nggak pergi."

Kamis, 22 Oktober 2009

Anyone At All

Anyone At All

Funny how I feel more myself with you
Than anybody else that I ever knew
I hear it in your voice, see it in your face
You've become the memory I can't erase

You could have been anyone at all
A stranger falling out of blue
I'm so glad it was you

Wasn't in the plan not that I could see
Suddenly a miracle came to me
Safe within your arms I can say what's true
Nothing in the world I would keep from you

You could have been anyone at all
An old friend calling out of blue
I'm so glad it was you

Words can hurt you if you let them
People say them and forget them
Words can promise words can lie
But your words make me feel like I can fly

You could have been anyone at all
And let that catches me when I fall
I'm so glad it was you

'You've Got Mail' - Soundtrack

cara pandang baru

rabu kemarin aku datang ke sebuah acara pemakaman bapaknya temen kerjaku di kantor, mewakili bos yang musti presentasi ke jakarta.

yang mengantar sekitar 10 mobil termasuk ambulance bergerak ke pinggiran kota, arah selatan bandung.

putra bapak itu hanya dua, temanku yang tertua. nah, adiknya kebetulan istrinya temen kerjaku di 'tempat lain'.

biasalah kami kemudian berbaur dengan sesama pelayat yang kemudian kami liat dari seragamnya, kebanyakan adalah teman kantor ibu mereka.

pas pulang, kebetulan dua tetangga yang ikut ke mobil kantor ibu mereka ternyata tak bisa 'nebeng' dengan mobil yang sama, karena mobil kantor hendak kembali ke kantor ibu itu di timur bandung.

barulah kutahu, dari dua bapak yang kemudian kami menumpang kendaraan kami, bahwa hanya ada tiga orang tetangga yang mengantar si bapak sampai ke pemakaman.

haaah??

kemana para tetangga --terutama yang sebelahan rumah-- yang pasti hampir tiap hari bertemu, mungkin mengaji dan sholat jamaah di masjid yang sama, dan minimal menjalankan ritual halal bihalal setaun sekali saat lebaran.

kalau mereka nggak kenal sama keluarga ini, agak sulit diterima. profesi mantunya yang temenku 'itu plus aktifnya si ibu 'memakmurkan' masjid pastilah ada 'nilai lebih' di lingkungan rumah mereka yang sangat rapat rumah para tetangga berjejer.

hari ini aku alami satu kejadian yang jauh berbeda kondisinya. hanya masalah kecil, may be :P

tapi sungguh, kadang orang yang kita anggap dekat dan bisa kita andalkan bisa memeluk kita saat terjatuh, bisa mengobati kita saat terluka, bisa jadi bukan menjadi yang pertama mengulurkan bantuan.

bisa jadi, orang lain yang kita pikir gak terlalu berteman dekat, sedang di jalan, mendengar kabar saja, bisa langsung menelpon menanyakan keadaan dan menanyakan apa yang bisa mereka lakukan?

bisa jadi, di saat krusial orang lain yang bukan kita anggap apa-apa, apalagi menyangkutkan dengan pertalian darah, justru yang ada saat kita butuh.

ya kita pun nggak bisa melolong-lolong meminta tolong pada orang terdekat sekalipun, pada satu saat kita benar-benar membutuhkannya jika memang tuhan tak memberikan mereka berada dekat kita pada satu keadaan.

terimakasih ya tuhan, memberikan pengingat bagiku akan hal ini. kadang apa yang kita pikirkan dan cita-citakan nggak akan kesampaian jika tak kau berikan. semua hal mungkin. hal yang nggak mungkin adalah 'menafikan' keberadaan orang lain, 'menafikan' silaturahim, 'menafikan' membantu orang lain, 'menafikan' untuk tidak memperhatikan orang lain.

karena semua yang kita tanam pada orang lain sekali pun, sekecil apapun itu, setidak penting apapun itu, insyaalloh kita bakal menuainya. terimakasih untuk pelajaran hari ini. terimakasih untuk membuatku nggak cengeng menerima kenyataan begini. karena cuma kenyataan ini yang sekarang aku punya dan musti hadapi :)

you're seem too closed, but not that closed
you're seem too easy to hold, but not that easy



sorry utun

sorry Tun, hari ini kita jatoh bareng dari motor
gara2 motor matic di samping kiri kita yang ditunggangin tiga mahasiswi, tiba2 nyelonong belok ke kanan.
aku pun limbung nggak bisa menjaga keseimbangan
yaaa...kita jatoh berdua.
aku nggak bisa ngedumel banyak sama anak mahasiswi yang sok 'inocent' itu
kecuali, memberinya pelajaran bagaimana nyetir tanpa membahayakan orang
mudah-mudahan kamu nggak apa2 di dalam perut ya, Nak.
maafkan ibumu yang nggak bisa menjaga keseimbangan
insyaalloh it will never happen again, my babe........

Rabu, 21 Oktober 2009

kamu dimana

nggak kutemukan dia di kolong meja dan tempat tidur
ato di sudut-sudut rumah sederhana di sebuah bukit
aku mencoba menelponmu di ujung jarak antar kota
selalu sulit, tak berbalas
hei jawab deh
ataukamu menunggu hingga aku malas dan bosan menunggu
hingga malas memikirkan apalagi merindukanmu

hiks

bosaan

Selasa, 20 Oktober 2009

dunia yang tak selalu sempurna, ternyata

perempuan muda dan cerdas itu kukenal sekitar empat taun lalu di sebuah tikungan pekerjaan pada suatu waktu. hingga kemudian dia menikah dengan lelaki yang kebetulan aku kenal. pasangan serasi secara fisik, materi tentunya juga kognisi.

aku merasa dunianya sangat sempurna. dengan prestasi dan nama besar, kecantikan terkenal dan pekerjaan yang sangat mapan. demikian juga dengan sang lelaki.

aku merasa kualitas hidup mereka lebih sempurna kalo dibanding cinta aku dan hubby yang trully sederhana and simple maker :P

bukan mengecilkan kualitas cintaku sama hubby dengan keadaan yang memang pasti beda dengan kondisi mereka yang sudah start dari lima, sementara kami start dari minus, mungkin huahuahuaaaa

eh berarti ini ngomongin materi yang established krn kalo soal cinta mah, di rumah kontrakan di kawasan kumuh gang sempit pun aku n hubby rasanya mah khusyu saling cinta (ngkali yeee??)

kalau dengar kisah mereka, njomplang aku dibuatnya. jalan2 ke luar negeri, naik ini dan itu, merasakan semua kisah kasih seperti di pelm-pelm barat 'when harry met sally', 'you've got mail', dll

cerita cinta mereka mirip di pelm dengan segala fasilitasnya yang terekam jelas dalam blogs blogs perjalanan hidup yang jelas menunjukan kebahagiaan mereka punya :)

memori kuat pelm itu yang sangat kuat aku ingat, hingga malas menerima satu cerita tentang perselingkuhan lelaki yang perfect di samping perempuan itu. tentunya aku malas merombak jalan cerita happy ending yang aku khayalkan terjadi di pelm mereka berdua.

tapi itulah, perempuan yang sudah dimanjakan dengan banyak kelebihan itu terantuk dengan kisah cintanya sendiri dan kenyataan bahwa kondisi keturunan mereka tidak se-perfect kisah awal cintanya. dia menghapus semua jejaknya, menihilkan semua sejarah dan berusaha kuat mengulang semua dengan seolah-olah menjadi manusia yang 'bukan apa-apa'.

kaget aku dibuatnya. tapi aku harus menerima sad ending dari pelm nyata yang aku tonton ini dengan semua kesadaran dan pembelajaran, dunia memang nggak sempurna. tapi ketidaksempurnaan itu justru membuat hidup perempuan cantik itu menjadi sempurna sebagai manusia, kurasa. karena kesempurnaan hanya milik penciptanya, yang sangat berhak menyempurnakan yang 'kurang' dengan kelebihan dan menyempurnakan yang 'lebih' dengan kekurangan.

what a perfect God we have........................tapi sama sekali aku menyesal mengetahui cerita ini dari awal sampai akhirnya. turut prihatin.

Senin, 19 Oktober 2009

selera nusantara vs barat

sudah nyaris delapan taon hidup bareng hubby tapi soal selera makan agak sulit memaksa dia pada makanan2 siap saji yang banyak aku dan anak2 suka.

hubby nyaris selalu setia pada lidahnya yang sangat menyukai lotek, oseng2, rujak, sop sayur, paling bisa di-upgrade dengan bakso, mie kocok, sate paling banter ya seafood lah. asian food seperti tom yum, sukiyaki pun lumayan suka.

tapi jangan sekali-sekali menawarinya zupa zoup, pizza, spaghetti dsb. pasti dia bakal menolak mentah2.

tinggal agak lama di jepang, hubby masih lumayan bisa adaptasi dengan makanan walo harga ikan emang mahal. pas di arab lumayan akrab sama kebab ato daging asap. herannya cerita dia ke eropa yang banyak menyediakan susu, keju n roti, (yang buatku 'surga'), walo cuma tiga pekan bikin dia enegh.

setiap sarapan, hubby minum susu dicampur kopi plus yoghurt. harga air mineral mahal, lebih mahal dari harga beer n wine, so minum susu lumayan bisa nambah cairan tubuh. kalo makan, dia pun terpaksa merogoh euro lebih banyak untuk membayar sepiring kebab krn pasti gak masuk spaghetti ato soup.

tapi itulah, aku menikah dengan konsekuensi bersedia menerima semua kelebihan fisik dan mentalnya sampe semua seleranya (termasuk musik dangdut yang enegh bangedh!).

jadinya saat kakak minta dibuatkan masakan kesukaannya zupa n spaghetti mensyukuri 7 tahunnya di dunia, hubby tetap tak tergoda makan sesuai selera kami pada suatu sabtu.

di sela-sela belanjaan yang dibeli, hubby tetap keukeuh menyelipkan menu lotek dan rujak.
jadilah sabtu cerah yang kami nikmati bersama sahabat kami dan semua orang rumah memadukan selera nusantara dengan selera barat. lengkap sudah ada yang makan zupa soup, spaghetti, makan lotek, rujak, tapi minumnya alhamdulillah pada mau 'seragam', lemon squash!!!

Jumat, 16 Oktober 2009

bungsu bungsu itu

masalah utama keluarga hubby n keluargaku nyaris sama. dia punya lima bersaudara dengan bungsu perempuan (bukan anak perempuan satu-satunya) dan aku lima bersaudara dengan bungsu satu2nya laki2

kasih sayang dan proteksi melimpah atas kedua bungsu menyebabkan masalah besar bagi kakak-kakaknya di masa depan. dan kini kami mengalaminya hampir bersamaan.

usai aku mendudukan adik bungsuku ke pelaminan, masalah ketidakmandirian terus menjalar menjadi masalah yang juga harus kupikirkan. kadang menyebalkan krn bukan porsiku bertanggungjawab atas hidupnya.

adik bungsu hubby pun bertindak kekanak-kanakan. rabu kemarin dia pergi dari rumah bersama anaknya yang belum berusia 2 tahun meninggalkan ibu mertua yang menangis meratapi kepergiannya. si adik merasa tak adil dengan pemberian ibunya.

ada apa dengan anak2 bungsu itu?

over proteksi ternyata memang tak selalu berhasil membuat orang merasa harus berpikir memandirikan hidup. mereka selalu saja tak bisa mengatasi masalah sendiri hingga akhirnya merembetkan tanggungjawab pada saudara lainnya.

what a complicated heart.

aku wanti-wanti sama hubby, andai anak ketiga ini jadi bungsu apalagi dia cowok seorang nantinya, jangan sampe ada diperlakukan spesial. andai dia lelaki, ajari dia jadi lelaki sebenarnya. gak boleh cemen.

karena sikap over proteksi juga nggak adil buat kakak-kakaknya dan ketidakadilan biasanya membawa kesengsaraan.

aku ingin menyayangi dan mencintai anak-anakku dengan cara berbeda dengan mengajari mereka memandang hidup yang gak selamanya enak.

tapi gak juga mengajarkan mereka dengan mengurangi fasilitas kalau memang secara edukasi bisa bermanfaat. yang sedang-sedang saja. kurang jelek, berlebihan apalagi :P

Kamis, 15 Oktober 2009

inilah hujan anakku

inilah hujan anakku

kenyataan yang harus berdua kita hadapi di jalanan belakangan hari
kenyataan baru yang jauh dari ketenangan tempat tidur yang akrab menyamankan kita berdua dalam dua bulan terakhir

lewat hujan, aku ibumu hanya ingin memberi pelajaran tentang hidup
yang nggak selalu sama

dua hari lalu, saat start pulang, cuaca masih cerah
eh nyaris nyampe rumah tiba2 hujan deraasss mengguyur kita berdua

dan sore ini, hujan deres awalnya harus kita hadang dengan sehelai mantel plastik

aku berusaha kuat menjaga keseimbangan roda dua yang membawa kita pulang pada keceriaan kakak-kakak di rumah

di tengah genangan hujan dengan air yang memperpendek jarak pandang
kamu setia menemaniku di perut ini menyempatkan diri membeli martabak dan burger kesukaan mereka

saat hendak sampai rumah, cucaca tiba2 cerah ceria

inilah hidup yang tak selalu sama, sayangku

romantikanya kadang ekstrim didapat dan fluktuasinya terkadang membuat kita frustasi

tapi inilah hidup yang ingin aku ajarkan padamu dari sejak dalam perut

hidup yang nggak cengeng dan lembek
karena tuhan lebih menyukai umatnya yang kuat ketimbang yang lembek

andai kamu sempat membaca coretan ini, anakku
semoga ini menjadi cermin pribadi kuat yang aku ajarkan dan doakan pada tuhan agar melekatkannya dalam dirimu kelak kemudian........

dari ibumu yang berharap lebih engkau menjadi seorang muslim yang kuat

Minggu, 11 Oktober 2009

weekly wife

Ini adalah pekan ke-8 aku menjadi weekly wife setelah sempat barengan dua taun dan sebelumnya 4 taun merentangkan rumah tangga bdg-jkt.

Banyak kekhawatiran pasti. Begitu hubby dipindah lagi ke jkt stlh sekolahnya kelar d bdg, seorang sahabat bilang,"susul suamimu ke jkt. Usia pernikahan udah gak muda lagi, resiko selingkuh tambah tinggi."

Aku cuma cengar cengir menanggapinya. Bukan soal kalo aku cuma sendiri yang ngikutin hubby ke jkt, soal dua anak jadi penting buat kami berdua.

Anak2 ogah pindah, si kakak bilang dia gak mau pindah sekolah smntara si dede yang 'anak rumahan' banget sll berkali bilang kalo bepergian,"uza pengen pulaaaang, pengen mimi susu sambil nonton si pooh".

Aku sendiri merencanakan eh tepatnya direncanakan my new bos kantor baru utk usaha baru di bilangan dago. I have not too many choice to move. Smntara hubby yang PP tiap jumat balik senen kayaknya lbh anteng fokus bekerja lima hari.

"Paling aku dua taun aja berusaha naikin page views sampe 70rb trus nggaet iklan abis itu sekolah lagi."

Sempet sering kepikiran ngurus hubby n mbantuin nyiap2in kalo brangkat ngantor terutama dua pekan lalu saat suaranya nyaris ilang krn batuk n flu berat. Tapi hubby always says fine with his condition n asking me to care the children n the baby inside save n sound.


Sampe akhirnya hubby berencana membeli rumah di skitar ragunan ato bogor,"lumayan kan biar gak tiap minggu pulang ke bdg."

Aku sbg penjaga gawang merasa andaipun harus pindah ngikutin dia ya no problem. Aku nurut aja, tapi kalo alasannya supaya suami nggak selingkuh kayaknya aku gak terlalu setuju.

Gimanapun aku iket dia biar stay at home all day, doing all thing together and make sure he is not looking for another women, kalo emang niat dia pengen selingkuh pasti ada aja jalannya. Gak usah nunggu dikerangkeng kayak binatang peliharaan hehee

Rabu, 07 Oktober 2009

another art of pregnancy

pertengahan juli kemaren aku mengalami degradasi fisik yang akhirnya ngaruh juga sama kondisi psykisku. muntah-muntah over banget, cepat lelah dan nggak puguh jiwa gitu.

aku nyoba periksa ke dokter langganan krn udah nggak kuat banget dengan fisik yang lemes terus sementara kerjaan banyak. aku kayak 'ngos-ngosan' lari ngejar kereta :P

dokter yang emang pengalaman meriksa perut, menekan2 bagian yang perlu ditekan dan nyeplos nanya," udah haid kali, test pack aja deh. smntara aku kasih obat maag ringan."

dheggg...antara siap dan nggak siap menghadapi probabilitas, aku juga penasaran. jadilah pulang dari dokter aku beli obat sekalian 'sensitif'. aku gak ambil pusing, segera menuju toilet warnet langganan, trus melakukan tes dengan cara rada joroks.

aku tampung air kencing di tangan kiri dan memasukan itu batang testpack ke tangan kiri yang berisi piiip, merembetlah itu cairan ke level dua, tapi asli warnanya gak terlalu terang.

hubby sebelnya nelpon usai itu dan menanyakan,"gmn jadi kata dokter?"
aku jawab,"disuruh testpack!"
hubby interogasi,"hasilnya?"
jawablagi,"dua strip ya, tapi yang atas agak burem, gak merah nyata."
hubby,"alhamdulillah, positif berarti."
jawabketus,"yeeey jangan kesenengan dulu, orang blm pasti!"

after that, secaranya ada ibu dan adik mertua di rmh, hubby rada melebih2kan keadaan baruku. padahal aslinya aku blm percaya dan serasa hendak berteriak mengurai nasib.

saat itu aku sedang mewujudkan cita2 hidup yang lain, berusaha ndaftar sekolah lagi, rencana mau mulai magang ngajar atas ajakan temanku, nerima order lain sbg tambahan buat nombok bayar sekolah. dan berniat meretas nasib baru buka usaha pffff

saat itu sepertinya dunia jadi agak serasa gak berpihak pada si 'api'.

di rumahpun, seperti terkondisikan, mertua sering banget bilang,"apapun jadinya, yang ikhlas ya..."

aaarrrrggggghhhhh

(di saat sama, aku tuh lagi punya negative thinking sama hubby yang lagi digosipin orang sekantornya, katanya punya affair sama resepsionis. gosip itu bilang, katanya hubby pegang2 tangan si respsionis manis itu. kepercayaanku pada hubby hendak berjalan ke titik minus saat itu)

ini adalah satu frasa hidup dimana aku bener2 merasakan limit fisik dan psykis pada waktu bersamaan. dan di saat itu, aku ngerasa bener2 blm siap hamil lagi :P

dan hubby memaksaku memastikan kehamilanku dengan nada senang dadadaaa dududududuu dan selalu senyum, dia sama sekali nggak tau gejolak hatiku yang membencinya setengah hati.

sampai akhirnya aku memastikan kehamilanku dengan seksama. menyiapkan cawan kering dan memeriksanya dengan hati-hati. dhiiing! tetep deh hasilnya dua strip dan aku keluar kamar mandi dengan lunglai.

aku jadi susah senyum, liat hubby muak muak muak berkali-kali....

sementara ekspresi hubby bener2 gembira, apalagi dia baru lulus ujian sekolah dan hendak diwisuda. double decker kesenangan lah buat dia, penyiksaan baru buat diriku :)

aslinya memandangi perubahan fisik, memikirkan gosip mentah yang diuar-uar sama orang yang emang gak suka sama hubby membuatku semakin kayak gak bergairah dan cepet marah.

sampe akhirnya aku nanya sendiri sama hubby soal gosip itu. hubby cuma berkata pendek,"knapa gak digosipin skalian aja, aku zina sama dia!! aku pegang tangannya kepaksa banget cuma sekali, waktu dikasi duit buat reparasi mobil, cewek itu nahan uangnya. padahal aku dah mau cepet2 ke kampus, jadi aku rebut duitnya dari tangan dia! tapi terserah kamu mo percaya siapa?"

ya aku jadi inget wajah perempuan itu. aku inget siapa yang ngegosipin. aku inget kesetiaan hubby selama ini yang kadang banyak aku ragukan. aku juga inget alloh.

sampe aku beri statement pada si pemberi kabar gosip,"sekuat-kuatnya aku mempertahankan pernikahan dengan mengikat suamiku agar tak sedikit pun lolos dari pengawasanku, jika alloh merasa dia bukan terbaik untuk dunia akhiratku, pasti aku pisah darinya. tapi selemah-lemahnya aku meloloskan pengawasanku, jika dia memang terbaik untukku dan akhiratku, insyaalloh, kami akan selalu disatukan."

hanya menyerahkan semua masalah pada the'invisible hand' lah aku akhirnya merasa plong melaluinya.

perjuangan tak sampai situ. aku merasa harus menyerahkan soal fisik pada keinginan jabang bayi. dua bulan aku ambil cuti dari kantor yang menolak permohonan resign-ku.

padahal dua hamil lalu, aku bisa menjalani semua proses dengan mudah dan enak. masih bisa bermotor ria dari awal hamil sampe cuti hamil, masih bisa bekerja sangat maksimal pada kehamilan kedua, tanpa diganggu mual-mual muntah berlebihan seperti ini.

setelah itu, masihlah dihadapkan pada soal lain, hubby dipindah lagi ke jkt stlh bos-nya tau dia udah lulus sekolah. waaaah, bener2 bulan-bulan ujian yang gak pernah kuduga sebelumnya. di tahun ini menjelang dan setelah ulang taun ke-35, aku diberi semua ajaran hidup yang benar-benar nyata di depan mata. what a wonderful gift ya alloh!

berkat dukungan dan kasih sayang hubby --yang sangat berlebihan dirasa-- aku merasakan limit fisik dan psykis yang diberikan penciptaku padaku saat ini justru sebuah pembelajaran kesabaran luar biasa. not as i think before, i do enjoy another 'art' of pregnancy now.............finally i'm feeling happy with this :)