Rabu, 26 Mei 2010

doa istri

analisa atas kekalahan bang kumis dalam pertarungan memperebutkan ketua partai biru di media massa, milist-milist sampe status akun twitter n fb rame banget. kekalahan yang seperti menitikan 'noda hitam' tersendiri buat bang kumis.

semua orang mencerca tapi mungkin tidak dilakukan istrinya. sesampai burung bercerita, kalo istrinya kerap menangis karena 'kehilangan' suaminya, sejak jadi corong raja eksekutif negeri ini. dia merasa terabaikan karena si kumis lebih takut dan patuh pada rajanya ketimbang istri dan anak-anaknya di rumah.

tiga hari bergelut dalam kompetisi memperebutkan ketua partai biru, aku menyadari sebagai istri, bukan hiruk pikuk dan ramainya kampanye menjagokan si kumis yang benar-benar diinginkan. hanya pribadinya yang dulu, apa adanya, saat dia memutuskan 'berjalan' bersama kita.

kehangatan, kemesraan, kayaknya cuma itu yang penting dalam hidup berkeluarga. bukan duit dan tenar berlebih. seseorang bukanlah jadi apa-apa kalau dia nggak berarti di mata keluarganya.

diam-diam aku menikmati detik detik kekalahan si kumis dari bangku sudut podium kiri panggung, tempatku mangkal tiga hari selama kongres partai biru.

aku sangat yakin, doa istrinya lebih didengar tuhan yang mungkin tak ingin si kumis makin lupa daratan dan makna hidup sesungguhnya. aku percaya tuhan membuatnya 'terpuruk' karena sangat sayang sama si kumis dan keluarganya. bukan karena murka. walo banyak orang bilang ini buah 'kesombongan'nya.

aduhai

aduhai perasaan yang buruk aku tak hendak lagi menurut. apapun itu, still believe in him in some ways he does.

go away, go away. its probably a reminder but not to be picked as a belief.

gak berniat lagi jadi hakim atas terdakwa dengan surat dakwaan yang kabur karena emang gak ada bukti.

semoga pikiranku makin sehat menstabilkan perasaanku padamu, sayangku. amiiin :))

Selasa, 18 Mei 2010

kutukupret

ini adalah sebuah perasaan biasa dari perempuan biasa yang tidak luar biasa sehingga terbiasa menjadi biasa dengan kebiasaan yang menjadikannya merasa selalu biasa.

merasa ada seorang luar biasa yang bisa hadir mencaplok orang yang menjadi luar biasa sehingga perempuan biasa menjadi merasa sangat biasa.

tapi sudahlah. its all about feeling that cant be stopped just by a statement.

merasakan perempuan biasa mendapatkan banyak cerita luar biasa. merasa segala yang luar biasa mungkin terjadi pada yang biasa. ya sudah lah. hanya tuhan yang tahu.

mungkin terlalu banyak dengar cerita orang sehingga akhirnya kesal juga dengan perasaan luar biasa ini.

tak jadi soal. toh akhirnya aku merasa selalu punya alasan kenapa harus mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk trio macanku. merasa harus mempersiapkan segala hal luar biasa yang mungkin terjadi.

ini bukan ketakutan, ini namanya persiapan heheee

maju mundur maju mundur

rencana resign dibuat sudah krn diberi kesempatan menyelesaikan kerja ini dengan satu masalah yang dibuat partner kerja. ya sudah lah, poin penting ada jalan untuk mengajukan surat resign secara resmi dan memberikan estafet posisi ini pada yang muda.

kukira semudah itu. namun menejer sdm membalas surat dengan berkata tetap ingin aku gabung krn kualitas (ehm ehm bener2 susyah deh, ini kedua kali surat mundur diajukan padanya)

tiga hari setelahnya, bosku langsung yang lebih seperti kakak perempuan, menelponku. dia ngancem mo nelp hubby beneran kalo memang hubby mendukung keputusanku utk lebih ngurusin anak. (bos sebelumnya ngomong langsung sama hubby saat ketemu di salah satu embassy soal ketidaksetujuan aku resign)
'lo tau kan, gue udah kayak kakak ato emak lo sendiri. it must be a great lost for me!'
kalo urusannya anak, kata dia, aku bisa tetap membantu kantor dengan cara lain, tapi tidak dengan resign. dia bahkan menyuruhku ambil teman kerja utk meringankan pengerjaan isu-isu harian.

aku pertimbangkan betul. mulai slow down dengan tugas2 harian. aku berharap kantor muak padaku karena aku lamban, ternyata tak sedemikian responnya. salah besar.

aku tetap mencari cara untuk resign dengan bebas gembira. walo kulihat, beban kerja mulai padat setelah tiga pekan masuk kerja. aku memohon petunjuk-Nya atas persoalan ini.

aku ngerasa belum menemukan masa depan apapun, kecuali anak-anakku. mereka adalah masa depanku yang musti kupelihara dengan baik hingga lepas dari asuhan dan mandiri menjadi diri sendiri.

walo godaan kerja sampingan yang makin kenceng, aku merem melek ngerem dari godaan itu. berusaha fokus dan fokus.

Jumat, 07 Mei 2010

after 35 years old

inget betul bos kedua selalu bilang, usia 35 taun biasanya menjadi usia sangat menentukan dalam hidup. karena dia merasa saat usia itulah dia memutuskan banting stir menggarap bisnis sesuai background pendidikannya, meninggalkan profesi yang dicintainya yang menurutnya tidak memberi lebih banyak kesejahteraan.

baru kerasa kata2 si bos dalam tiga pekan terakhir. kadang aku bertanya sama hubby sampe kapan kita mau jauhan terus? tentunya melihat posisi delapan bulan terakhir, perkembangan kariernya seperti meminimalisir kemungkinan membawanya kembali ke kota kami. aku pasrah soal itu. walo hubby memastikan just 2 years in jkt, after that he we'll build our dream to get back together.

karena dia merasa jkt gak enak buat tinggal selamanya. home sweet home tetaplah bandung adanya.

aku sendiri berusaha realistis mencari jalan keluar memaksimalkan diri mengurus anak dengan memutuskan mengakhiri karier 12 taunku di profesi ini. lebih memfokuskan dengan kerja lepas dan kerja rumahan seperti selama ini sudah kujajagi dan mulai dilakukan sejak setahun lebih. aku harus lebih adil membagi diri dan mengisi waktu bersama anak2 karena perhatian sulit terbagi. walo cinta berat dengan profesi, tapi aku harus menekan egoisme dan mengingatkan diri sendiri untuk lebih memenuhi hak anak2.

apalagi hubby sudah mulai ngomporin aku buat stay lebih banyak di rumah sama anak2. inget golden ages mereka dan banyak hal yang aku pasti rindukan selalu sepanjang hari jika harus berpisah dengan mereka. sungguh menyiksa meninggalkan mereka saat harus bekerja belakangan hari.

pekerjaan hubby yang awalnya sulit karena menata banyak hal baru untuk mendatangkan profit, sekarang terlihat bagus. bos2 pasang jempol dan melihat keuntungannya sangat prospektif sehingga hubby dapat ganjaran baik pula.

semua fine2 aja sampe sekitar tiga pekan lalu. saat hubby dikontak seorang mantan bosnya dan diajak gabung merintis cabang bisnis di kota kami. mantan bos itu memegang hubby untuk merintis, mengembangkan dan menguntungkan usaha itu dengan share saham dan profit. modal murni dari mereka dan hubby tinggal mereka-reka memajukannya.

gaji dan fasilitas ditawarkan lebih baik dari tempatnya bekerja sekarang yang sudah lebih dari 10 tahun digelutinya dengan berbagai susah dan senang. walo kadang aku merasa penghargaan kantornya terhadapnya sangat minim dibanding usahanya. toh sekarang hubby sedang juga dimanjakan kantornya dengan kemajuan yang bisa dia berikan pada unit yang dipercayakan padanya.

namun hubby sepertinya tertarik tawaran sang mantan bos itu karena pecinta tantangan sekaligus lebih dekat dengan keluarga. selain itu, di usaha baru hubby punya share saham jadi dia dianggap owner juga.

dua kali sudah mereka bertemu merumuskan calon bisnis baru itu dan sepertinya hubby makin tertarik. walo dia agak bimbang meninggalkan pekerjaannya sekarang yang dalam delapan bulan terakhir sudah membalikan gajinya menjadi dua kali lipat.

aku cuma minta hubby istikharah untuk mendapat yang terbaik. jika memang lebih kuat memilih pindah, berharap itu yang terbaik buat kami semua. cuma agak mempertimbangkan omongan si bos, di usia hubby hendak 36 taon, momen ini sangat menentukan. apakah akan tetap di jalur terus menjadi buruh buat orang lain sampai pensiun, atau melesat dengan pilihan yang 'gambling' juga adanya heheee

Rabu, 05 Mei 2010

you get what u've paid

aslinya lagi ngerasa bingung sama dua orang sombong yang lagi kedapetan masalah, tapi ya tetep merasa perlu sombong di depan orang lain.

tiga bulan lalu, aku berantem sama satu sombong krn beda persepsi ttg hubungan manusia. merasa tak suka dengan sikapnya yang oportunis, aku mengingatkan dengan sungguh2. sblm dia terbang ke belahan negara lain, dengan 'jalan' yang kubukakan menuju negara itu. dia sama sekali gak pamit krn masih marah diingatkan. no regrets. toh, kita gak berharap dapat medali atau popularitas saat musti membantu orang.

dua hari sblm dia berangkat, ibunya dtg menemuiku mengantar ipar si sombong yang hendak kerja jarak jauh utk proyek-ku. alhamdulillah masih bisa menekan emosi dengan tidak menendang ipar si sombong dari pekerjaan ini. murni bersikap profesional, melakukan tes kerja, wawancara, dan dia memang lolos (walo timku awalnya mengeluhkan sikap 'rese' ipar si sombong)

hanya kalimat ibunya yang dapat mendorongku memaafkan perlakukan si sombong. begitu bertemu ibunya langsung mengatakan,"maafin dia yaa suka ngerepotin kamu aja. aku bingung udah gak bisa ngatasin dia. keras hati sekali. salah kata, malah dia ngerasa kita gak pinter, gak bisa ngikutin pikiran dia yang pinter."

heheee ya sudah lah. sakit hatiku berlalu begitu saja. meski benar2 sakit. mengingat hal hil selama ini kulakukan sbg teman yang ingin melihat temannya maju.

tak kuat menahannya, aku kirim imel pada teman jauhku --juga teman dekat si sombong-- di HK. kubilang, aku patah hati dan tak hendak lagi berteman terlalu baik, jadi teman2 biasa saja lah, biar sakitnya gak terlalu.

temanku itu bilang, percayalah ketika berbuat baik, baik juga akhirnya yang dituai. tuhan tak pernah tidur. si sombong benar2 keterlaluan.

kulupakan sudah tentang itu. sampai dua pekan lalu, berita itu datang seperti tamparan keras pada perasaanku sbg perempuan. om si sombong terkena musibah. hal memalukan yang menampar kejayaan nama keluarga mereka menguak ke permukaan dan sebentar lagi jadi pembicaraan kelas nasional. i dont kno' what 2 do.

aku kirim imel pada si sombong menerangkan duduk perkara, biar dia tidak shock saat balik ke ind. jawabannya kudapat malam tadi via sms, bahwa hal begitu sudah biasa (bernada im oke oke aja kok). aku tak hendak bersorak sorai. tapi begitulah, aku merasa si sombong tak merasa itu sebuah masalah besar. walaupun secara etis pasti memalukan buat trah keluarga mereka.

sampe tadi siang, anehnya dia berubah cepat, mengirimku imel dan isinya minta bantuan menerangkan kasus itu pada publik untuk mendudukan persoalan pada porsinya. yaaa saya mana bisa, kan dia hebat. silahkan selesaikan masalah ini. saya pikir harus membuat sebuah shock therapy pada orang yang merasa semua yang hebat ada padanya, dan dia bisa melakukan apa saja yang terbaik buat dunia on her own legs.

aku tak jawab imel itu hingga kini. menggantungkan, daripada makin emosi dibuatnya. cuma belajar, kalo emang sombong, mau dikate dikasi ujian, tetep aja dia ngerasa sombong untuk menantangnya. bukannya dia belajar lebih rendah hati memperbaiki.

sombong kedua, kuperingatkan tiga taun lalu saat memulai memiliki kantor cabangnya di kota kami. bahwa info manajemen pusat yang kebetulan bos keduaku tau, kantor cabang itu hanya diikat tiga taun oleh pembiayaan iklan. jika kontrak iklan kelar dalam tiga taun dan belum hasilkan profit, maka terancam dibekukan kembali.

tapi itulah, saat kubilang begitu, dia membantahnya dengan keras, dan ngerasa aku sok tau urusan rumah tangganya. padahal i just warned that she had to work harder to rise the incomes....

ya itulah, baru dua hari lalu kudengar semua fasilitas kantor ditarik ke pusat, sdm mulai ditarik juga, dan kantor dibiarkan berjalan seadanya, seperti ditinggalkan begitu saja oleh kemudinya di pusat. karena target incomes tak tercapai.

yaa aku mo bilang apa. ada kasian. aku banyak mengambil pelajaran dari dua sombong ttg keharusan rendah diri dan banyak mendengar pendapat orang, jangan mau bener sendiri, jangan mau super sendiri. karena kalo pas apes, banyak orang bukannya membantu, tapi malah mensukuri. astaghfirullah....