Rabu, 07 September 2011

dari tas mikir kualitas (teman)

hubby belikan tas kulit baru. ibaratnya barter. krn tas punggung yg dibeli di jkt terlalu cowok dan agak ribet kalo kupake, hubby memakainya. sbg gantinya aku minta dibelikan tas simple yg muat semua barang2 dan alat kerjaku.

nah pas dipake pertama. temen2 pada bilang bagus. keren. trus preksa2 merk. sampe ada yang nyiumin baunya segala. "kulit asli!" beuhhh

agak malu jadi memakainya. krn aku lebih tekankan fungsi dan kenyamanan memakai. mereka melihat dari kacamata model, merk dan taksiran harga.

aku bbm hubby ttg kejadian itu. hubby bilang sok dijawab,"ya jelas keren, orang yang mbeliinnya juga keren" whewhhh geuleuh.

aku cuma bilang, gitu ya pergaulan. kalo aku sengsara, mereka masih mau berteman gak? heheheee

bukan bermaksud mempertanyakan pertemanan. perjalanan,pengalaman berteman memang sebuah ujian kesetiaan yang gak mudah diukur hanya dengan perkataan.

saya nggak mau njelimet mengukur pertemanan. tapi nyatanya memang akhirnya berpikir, kalo saya bukan siapa2, apa mereka masih mau jadi teman saya?

kata suhu kalimat bijak, Mario Teguh--sahabat buruk itu seperti bayangan, dia ada saat terang dan menghilang di saat gelap--

i've found a lot of good and great friends so far.tentunya yang sudah teruji melewati itu semua...alhamdulillah. cuma teman2 di suasana bekerja memang lain, mereka datang dan pergi seperti biasa...ada yang baik, ada yang nyebelin...saya menikmatinya.

dari tas itu saya merasa gak perlu berpikir lebih jauh lagi. toh saat mereka komentar pun, itu sudah menunjukan perhatian. itu sesuatu, tentu :)

lebaran berbeda selalu so lovely


berdua gak ambil cuti lebaran. krn hubby harus berangkat usai lebaran ke suatu tempat buat diskusi ttg suatu hal. tapi aslinya sangat menikmati liburan yang hanya tiga hari. full barengan kemana2. makan bareng. jajan bareng. dan tidur siang yang istimewa (jarang bisa take a nap kalo hari biasa).

aroma lebaran kali ini harus kembali menerangkan kepada anak2 kenapa memutuskan berbeda lebaran, bukan karena berkiblat ke arab ato kami muhammadiyah.

islam itu gak mengenal batas negara. kita ber-islam mengikuti agama rahmatan lil'alamin yang kebetulan berpusat di arab sebagai kiblat ritual. nah, soal lebaran memang setiap tahun kami nggak berpatokan pada sidang isbat versi pemerintah. indonesia meratifikasi konvensi OKI untuk gunakan hilal berdasarkan kawasan, tapi kurang memperhatikan konsideran negara2 sekitar yang punya pengamatan lebih canggih dan terpercaya.

dalam beragama, jelas aku bukan lulusan pesantren kayak hubby. tapi berupaya melakukan pencarian. dan aku merasa logika harus digunakan sebagai energi berpikir mencari yang benar dalam berkeyakinan. sampai akhirnya aku menemukan jejaring muslim muda yang sama2 dalam pencarian. tapi sekali lagi, kami bukan muhammadiyah.

sebelum menentukan puasa, sholat ied kurban ato lebaran, kami selalu menunggu keputusan negara2 sekitar. malaysia yang punya 30 titik pengamatan hilal, brunei, s'pore termasuk aussie. indonesia yang cuma 14 titik pengamatan selalu berbeda karena ada patokan dua derajat yang kalo dikonfirmasi ke ahli astronomi bener juga gak ada konsideran untuk menyatakan bahwa kalo gak dua derajat gak bisa disebut bulan baru. nah kalo udah kasat mata kelihatan kumaha?

hilal udah keliatan di 3 titik walo belum dua derajat. tapi itu dinafikan begitu saja tahun ini. entah ada apa dengan sidang isbat.

sementara umat islam di indonesia, bisa duduk kritis sbg warga negara, tapi masih berkali lipat jika harus berpikir kritis sebagai umat. karena merasa kalau pemerintah salah, biar saja dosa ditanggung mereka. padahal agama ini diciptakan hanya untuk orang-orang yang berpikir. like parachutes. they work best when opened.

saat memandang islam, harusnya memandang sebagai satu sistem mendunia. dia tidak terkotak-kotak dalam negara. apalagi banyak konstruksi koruptif dalam pengambilan kebijakan beragama dalam sebuah negara. itu musti menjadi catatan penting untuk meluruskan shaf dalam beragama.

saat memutuskan berlebaran selasa pun, senin sore teman sudah menelpon bahwa s'pore, m'sia dan aussie di pulau yg wilayahnya terdekat 2 jam dari indonesia akan berlebaran selasa. so kami putuskan lebaran selasa.

tanpa diduga yang lebaran selasa banyak dan hampir gak dapet tempat. gak semua mereka muhammadiyah ato berkiblat ke arab. tapi banyak janggalnya sidang isbat. termasuk persoalan adu domba yang disiarkan televisi ternyata banyak mempengaruhi pendapat.

abis sholat selasa subuh, temen di bandung yang baru pulang dari US kirim text message kalo dia masih percaya untuk puasa pada hari itu. karena di sidang isbat disebutkan m'sia dan brunei juga lebaran rabu. aduh mis-leading lagi deh pemerintah. aku bilang kalo m'sia dan negara2 kawasan di asia-aussie kecuali selandia baru memutuskan selasa. akhirnya dia kroscek dan shock memikirkan kenapa sidang isbat bisa berdusta? apalagi dia akhirnya googling kalo dalam sidang isbat disebutkan 3 titik melihat hilal, tapi dinafikan krn secara astronomi (di satu aliran, kan aliran astronomi juga banyak) blm masuk bulan baru. hanya gara2 dua derajat yg sangat debatable.

males memasukan soal riwayat nabi yang tidak mempertanyakan brp derajat dan brp jauh orang yang melihat hilal datang padanya sehingga dia membatalkan puasa. aku cuma pakai logika awam dan selalu bermohon pada yang maha kuasa untuk ditunjukan pada pencarian di jalan yang benar. bukan menurut aku, suamiku, keluargaku, tapi menurut islam sejatinya.

akhirnya temanku pun batal puasa dan berlebaran pada hari itu. insyaAllah aku gak merasa hebat untuk menundukan logika dia ttg sidang isbat. krn yakin dia pintar dan berlogika hingga berdebat kritis mempertanyakan keputusanku. aku senang karena ada dialog di dalamnya. dia memutuskan juga mencari konsideran2 lain, mempertanyakan keputusanku sampai bertanya pada mufti-nya di US ttg masalah ini.

semua punya alasan buat mempercayai atau tidak percaya sidang isbat. aku yakin, nanti saat dihisab kita akan ditanya dasar berpikir saja. jadi jangan masalahkan kenapa kita berbeda, apalagi sampai mentertawakan kelompok sedikit yang sholat hari selasa karena gak ngikutin mainstream umat berlebaran di hari rabu.

seperti seorang tetangga yang menyindir,"males aja puasa lagi ya, jadi lebaran selasa!"

insyaAllah aku memaafkan orang2 seperti itu yang berpendapat miring ttg orang yang memilih lain. akhirnya hanya allah yang berhak menentukan kebenarannya. semoga jika pun salah, dia memaafkan aku yang masih dalam pencarian ini.

lebaran berbeda sejak aku menikah dengan hubby adalah hal biasa. keluarga memaklumi. dari lima anak, hanya dua anak orang tuaku yang tak ikut kata sidang isbat. karenanya, walo berbeda, kakak tertua yang kebetulan guru dan istri tentara selalu merasa wajib mengikuti lebaran versi pemerintah pun mengerti betul pilihan kami.

dia sudah terbiasa memasakan ketupat,opor,dan macam lainnya untuk diantar ke rumah kami sehari sblm lebaran versi pemerintah hehee....alhamdulillah. secaranya dia paham aku selalu malas masak berat seperti itu...apalagi hubby gak suka ketupat,opor, paling banter masih masuk sambal goreng kentang.

alhamdulillah beda ini masih selalu indah di keluarga kami. tak pernah menyangsikan dan memaksakan mereka untuk ikut bersama pendapat kami. tapi kakak dan adik2ku merasa berbeda lebaran tak jadi pembeda. kami tetap satu saudara, menikmati menjadi umat dengan segala alur logika untuk mencari kebenaran hakiki.