Jumat, 19 Februari 2010

sesungguhnya teman........

suatu saat ketika semua orang tidak menjadi siapa2, apakah kita masih mau menerima dan menemani kesepian mereka?

secara pribadi, aku lebih senang dekat berteman dengan teman2 yang 'bukan apa2'. makanya saat mereka sedang 'terbang', aku memilih mengagumi dengan melihat kepak sayap mereka dari bumi. bukan memandang dengan rasa minder karena kalah tak bisa sepadan dengan gaya 'terbang' mereka dengan semua keterbatasanku. karena pilihan hidupku utk mengagumi mereka.

pernah suatu kali, seorang teman yang kini permanent resident di negara lain, merasa harus mempertanyakan 'keterbelakangan'ku di 'mata' mereka. aku diinterogasi seolah2 suamiku mengekang kebebasanku, seorang diktator yang selalu membuatku tunduk pada urusan domestik di rumah.

aku cuma bisa ketawa dan memberitahukan kalau mau diklasifikasi, hubby masuk kategori suami yang paling menghargai pilihan istrinya. aku bukan mengekangkan diriku pada 'sangkar madu', tapi berusaha konsekuen dengan ketidaktegaan meninggalkan anak2 untuk terbang terlalu jauh. meskipun hubby selalu mempersilahkan aku dengan pilihanku.

sebulan sebelum bebe lahir, aku ketemu dengan temanku itu saat hendak membeli lumpia basah di blk gd sate. dia menangis memelukku dan menceritakan dia hendak bercerai krn suaminya totaliter tidak mau mengikuti kemauannya utk berkelana di negeri lain. suaminya menggunakan kekerasan psykis untuk membuatnya tinggal, sehingga dia berkeputusan utk bercerai.

prihatin aku mendengarnya. tapi bukan waktuku membalas semua pendapat dia ttg hubby dulu. pilihannya menikah dengan lelaki egaliter. ternyata, seegaliter apapun lelaki, pada sisi2 tertentu mereka pasti punya sisi terbatas yang menginginkan perempuan tetap di sampingnya.

suatu kali sahabatku masa kuliah pun melesat terbang ke sana kemari sebagai pekerja sebuah agency berita int'l. pertanyaan sama menderaku. kenapa aku masih tinggal diam di 'kotak' yang sama? aku bilang kerja dan pikiranku gak bisa dibatasi dengan 'kotak'. meski tinggal tak di ibukota, aku merasa masih bisa menjelaskan dan memanfaatkan banyak potensi sosial dan intelektualku.

suatu saat aku bilang dia akan punya anak dan akan merasakan bagaimana tak nyamannya meninggalkan mereka berlama-lama.

alhamdulillah, setelah lebih dari 8 taun menikah, sahabatku beranak lelaki dan memutuskan menjadi ibu seutuhnya.

giliran aku menggodanya dengan menawarinya membantuku utk kunjungan teman2 dari aussie yang hendak datang mei. secara bayi lelakinya sudah lebih dari enam bulan usianya. tapi itulah, musim berganti, pendapatpun berubah. aku pikir waktunya dia kembali bersentuhan dg dunia kami. tapi dia menolak tawaran pekerjaan yang kuberikan karena tak tega meninggalkan anaknya berlama-lama. what a great mom!

tuhan selalu memberikan pelajaran dari semua kejadian, tak usah manusia ngotot mempertahankan pendapatnya apalagi balas dendam karena sakit hati. tuhan selalu bijak memberi pelajaran terbaik bagi setiap manusia.

aku agak merasa berlebihan dikiriminya sebuah note dalam catanan Fb-nya. karena merasa tak selalu bisa memberi yg terbaik pada teman2 dan sahabat2ku heheeee

sahabat
tidak ada yang lebih indah dari sms mu kemarin, temanku,
sebuah tawaran yang memang tidak bisa kuambil,
tapi tawaranmu adalah tanda bahwa engkau mengingatku lebih jauh.

sahabat adalah orang yang mengingatmu saat orang2 lupa,
mengetahui keadaanmu tanpa engkau perlu bercerita
yang entah kenapa selalu hadir pada saat engkau berduka,
atau dikepung pertanyaan bodoh ttg kehidupan.

yang engkau merasa dia siap mendengarkan, bahkan memberikan dirinya disaat apapun.
yang tidak pernah merasa malu juga untuk bercerita ttg kesalahan dan kebodohannya sendiri
yang menerima kebodohan dan kesalahanmu, dan mengingatkan tanpa membuatmu merasa rendah dan malu.

yang entah kenapa, punya ruang yang begitu luas, untuk mentertawakan diri sendiri, bersama.
dan pada titik itu, setelah melihat cermin yang buram, kita selalu berniat untuk menjadi orang yang lebih baik.

sahabat, apa artinya dunia tanpa itu?

ps: gw gk bisa bikin puisi yang bagus. cukuplah note fb aja ya.

Selasa, 16 Februari 2010

Runaway - The Corrs

Say it's true, there's nothing like me and you
I'm not alone, tell me you feel it too

And I would run away
I would run away, yeah, yeah
I would run away
I would run away with you

'Cause I am falling in love with you
No never, I'm never gonna stop
Falling in love with you

Close the door, lay down upon the floor
And by candlelight, make love to me through the night
(through the night)

'Cause I have run away
I have run away, yeah, yeah
I have run away, run away
I have run away with you

'Cause I am falling in love (falling in love) with you
No never, I'm never gonna stop
Falling in love with you
With you

There Are Places I Remember - The Beatles

There are places I remember all my life,
Though some have changed
Some forever, not for better
Some have gone and some remain.
All these places have their moments
Of lovers and friends I still can recall
Some are dead and some are living
In my life I loved them all.

And with all these friends and lovers
There is no one compares with you
And these mem'ries lose their meaning
When I think of love as something new
And I know I'll never lose affection
For people and things that went before
I know I'll often stop and think about them.
In my life I loved you more.

And I know I'll never lose affection
For people and things that went before
I know I'll often stop and think about them.
In my life I loved you more
In my life I loved you more

Senin, 08 Februari 2010

si memed lahir

mengingat tak bisa menolak takdir yang kuasa dan tak sepintar dokter obgyn mengetahui isi kandungan, kelahiran kali ini tergesa-gesa dilakukan.

setelah dua pekan di-breeding menaikan berat badan, bebe akhirnya dinyatakan sudah siap dilahirkan 29 januari '10. sepertinya memang bukan tanggal menarik untuk diingat, tapi hari itu adalah sejarah terbesar melahirkan yang pernah aku punya.

selama dua pekan bedrest di rumah, minum banyak coklat, ice cream, susu hi-protein (bikin sesek beli di doktern 337rb per 450 gram), istirahat tiduran banyak (khawatir rembesan ketuban terus terjadi) sama gak banyak mikir.

melahirkan memang bukan kiamat, tapi aslinya dia selalu aja bikin orang surprise...

jumat itu adalah jumat kedua aku cek berat bebe. yang sebelumnya blm bisa dieksekusi krn beratnya msh kurang dari 2,3 kg.

selama dua pekan lebih menunggu adalah saat2 menegangkan. selalu ku berdoa smoga bebe bisa bertahan dan selamat dilahirkan. karena sama sekali nggak tau bgm kondisi dia di dalam rahim, apa ikut stres juga spt aku memikirkannya.

alhamdulillah hari itu kata dokter beratnya udah cukup untuk dilahirkan dan dokter gak mau nunggu lama krn rembes ketuban dah lebih dari dua pekan, khawatir bebe mengharu biru :) (sok melowww)

saat itu usia kematangan bebe masih kurang empat pekan dari jadual perkiraan dokter (janji sc 26feb). ya sudah lah mau apa lagi. meski hubby minta kalau bisa 5 feb aja, supaya bisa nungguin dan mbantuin.

hubby udah tiga hari susah banget diajak chat krn jam tidur beda 6 jam dan di maroko gak nemu koneksi wifi kayak di alger. bingung juga jadinya mengabarkannya.

dokter cuma bilang,"bisa gak tandatangan suaminya di faks ke rumah sakit?"

"boro2 tandatangan dok, itu saya aja gak tau koordinat dia berada dan bagaimana cara menghubunginya." gleks (sambil agak kesel, knapa hubby maksa banget nyari sim card lokal, daripada dengerin mulut monyongku minta dia beli perdana xl seperti waktu ke europe :()

btw saat pergi periksa aku bawa dua anak, kakak keduaku dan nenek tetangga yang ingin mengantar krn khawatir dgn kondisiku. aku perlu bawa kakakku untuk mengantar anak kedua ke dokter langganan krn ada benjolan di lehernya krn salah tidur. sementara aku didrop supir bersama nenek dan anak pertama di tempat rsb jalan sumatera buat preksa, kakakku bawa anak keduaku ke dokter langganan di dago.

saat aku dengar dokter bilang secepatnya musti dieksekusi, aku langsung bilang ya udah malem itu aja. gak mikir panjang juga buat nunggu hubby. dokter bilang jam 9 malam dan aku diminta segera reservasi ke ruang perawatan.

masalah timbul pas aku inget nenek tetanggaku yang mengantarku itu punya darah tinggi, sementara gak mungkin nyuruh anak pertamaku yang baru kelas dua SD buat menelpon sana sini. aku agak panik saat menelpon kakak ipar yang pertama musti tau kondisi terbaruku (sblmnya hubby wanti2 buat sll telpon perkembangan kesehatan pada kakak iparku, krn sejak kasus dirawat pertama pun kami sama sekali tak memberi tahu ibu mertua, khawatir shock)

aku agak mellow dan menangis menelponnya. tapi stlh itu sudahlah buru2 aku hapus air mataku, segera tersadar musti menghadapi realita, menyusun semua keperluan persalinan dan mengontak para penunggu. tapi itulah, di luar dugaan nenek itu spt histeris, dia menelpon suaminya setengah teriak dan menangis mengabarkan kondisi terkiniku yang musti dieksekusi malem itu.

anehnya kepanikanku saat itu teredam melihat kepanikannya. aku menghela nafas panjang, banyak istighfar dan berusaha kembali ke logika normal.

kakak dan anak bungsuku datang dari dokter lain. aku suruh dia pulang bawa anak2 bareng supir dan menginstruksikan supaya supir kembali dengan berbagai perlengkapan persalinan dan membawa ua ai (tukang pijet sekaligus teman baikku). sementara saat itu, nenek tetangga masih kupertahankan ada bersamaku sblm ada teman pengganti menemaniku.

setelah reservasi, aku kontak si ully--temen baikku lainnya-- yang selalu ada untukku sejak dirawat pertama. ternyata dia sedang di kosambi dalam perjalan pulang dr kantor dan dekat menuju rsb. ya sudah lah, aku mulai memikirkan bagaimana memulangkan nenek panik itu.

sesampai di rumah, kakakku menelpon, ternyata kunci rumah tertinggal di tasku. ya sudahlah, terpaksa menelpon teman baik hubby meminta tlg mengantarkan kunci ke rumah sekaligus membawa nenek panik pulang bersamanya. (gak bisa kubayangkan berapa tensi darahnya, jika dia terus menungguku sampai eskekusi dilakukan :P)

si ully datang, nenek pun dipulangkan. aku menelpon kakak tertuaku, minta segera datang sbg keluarga.

ya sudahlah, seperti kelahiran pertama saat hubby jauh, aku tandatangan sendiri bertanggungjawab atas diri sendiri di atas materai atas semua tindakan dokter dan crew-nya di ruang operasi. krn kakakku pertamaku blm dtg juga, sementara pengurasan perut dan cukur2 sekitar perut dan bawah perut sbg persiapan sc hrs segera dilakukan.

sebelumnya, sempet ngorek2 info ttg bius lokal. dua sesar sebelum yang hanya 30 menit dan 23 menit berlangsung dalam tidur krn bius total. dokter anastesi kali ini bilang kalo bius lokal, empat jam udah bisa minum, dst dst (kelebihan2 diungkap krn secaranya harga 'lebih mahal' 2 jutaan juga gituh)

yaa akhirnya nyoba bius lokal.

eeeng inggg enggg, jam 9 tepat. kakak tertuaku sudah datang, teman baik suamiku dan istrinya datang, operasipun dilakukan. sementara ully sbg penunggu cadangan tak sanggup menunggu dan memutuskan pulang....

masuk ruang operasi dengan kesadaran berbeda kali itu benar2 menyiksa ternyata, krn terlihat jelas deretan pisau, gunting2 dan semua alat-alat di meja sebelah kanan (walo agak jauh, keliatan juga). dua botol penyangga metabolisme tubuhku yakni selang infus dan cairan penahan rasa sakit. mulailah disuntik di punggung dengan posisi bungkuk udang (alhamdulillah sekali langsung sukses krn temanku bilang kalo bungkuknya tak sempurna akan diulang seperti dia sampe 3x)

perut terasa diguncang2 dan seperti diutak-atik isinya, tapi suara gunting dll gak kerasa n gak kedenger lah yaw (kalo iya pasti horor bangets).

sepanjang itu, dokter anastesi terus menceritakan perkembangan dan tahapan operasi dari mulai aku dikasi obat apa aja, sampe bayi brojol dalam keadaan sungsang (sesuai dengan USG, kaki duluan), terus kelamin (cewek lagi, lengkaplah 'trio macan'ku), dan kepala..beberapa saat kemudian didekatkan ke puting sama dokter anak dan akhirnya minum susu pertama....

kesadaranku kemudian agak diganggu rasa ngantuk (pdhl sudah perjanjian kalo pengen tidur, baru dikasi obat teler, tapi kan aku gak minta). tapi sesayup sampai masih terdengar itu dokter2 instruksikan apa dan ngobrol ttg apa, dari mulai banjir di arcamanik menghambat dokter anastesi cepet datang ke rs, sampe ngobrolin bayi orang yang lahir normal 4,1kg tapi ada sedikit gagal nafas).

pas ngobrol bagian terakhir meski teler aku sempet slonong gaya pemabuk bertanya,"bayi saya kenapa dok?" yang langsung disahut sama dokter2 itu kompak,"bukan bayi ibuuuu!" (pengen ketawa sendiri juga jadinya)

ya sudahlah. operasi ternyata berlangsung lama hampir satu jam, aku mengalami bleeding (yang baru kutau dari suster2 pada keesokan harinya krn HB-ku drop ke poin 7 dari poin 14 seharusnya bagi orang baru melahirkan sehingga dokter memberi satu labu transfusi darah utk mendongkrak kadar haemoglobinku)

healing operasi kali ini juga agak lama. biasanya usai operasi siang (dua kali siang terus kebagian dokternya), malamnya, aku mulai belajar duduk setelah sebelumnya berusaha miring kiri kanan melemaskan otot di sekitar bekas operasi (kalo enggak, biasanya healing akan lebih lamaa krn ototnya gak elastis). besoknya aku udah belajar jalan sendiri ke kamar mandi.

kali ini mengawali tradisi berbeda (aku pikir krn sistem anastesi berbeda). aku disuruh lying tanpa bantal dan miring kanan kiri itu 24 jam penuh. kesiksa banget krn bukan cuma nahan sakit pas ngebolak balik badan (walo udah dikasi pereda sakit) tapi kateter penampung pipis yang mengganggu krn bikin gelii bin bikin mules krn menahan darah nifas keluar. belum lagi keringetan krn penunggu gak tahan AC, jadi pendingin ruangan dimatikan (sementara sprei dilapisi bahan plastik seperti perlak biar kasur gak kotor kena darah, dll)

terbiasa pada dua sc sebelum, begitu duduk, dan agak sehat, semua selang infus dan penahan sakit dicabut, kentut, boleh minum, barulah aku konsumsi phen zeng huang obat cina yang bikin luka operasi cepet kering. terus belajar jalan, besoknya pasti udah boleh pulang krn aku pasti tampak kuat berjalan dan luka jaitan sudah kering.

tapi kali itu, aku harus menunggu 36 jam lamanya buat makan itu obat. setelah itu baru boleh setengah duduk dengan sangat sakit krn lukanya seperti masih basah.

hari kedua, pagi, selang2 belum bisa dicabut krn menunggu transfusi darah, tapi obat penahan sakit udah dihentikan, jadi barulah dalam waktu 48 jam bisa minum obat cina itu.

aku kuatkan belajar berjalan agar ibu mertua yang datang bisa melihatku lebih sehat dan segar. senin pagi, aku sudah mulai wara wiri dengan rasa sakit yang gak berkurang. dan baru ketauan, pas plester plastik penutup luka operasi dibuka pada hari ketiga, ternyata iritasi menyebabkan kesakitan. ada empat lokasi luka basah spt luka bakar di bekas plester plastik itu, padahal luka operasinya udah kering.

hubby yang baru dateng malem senin agak marah melihatnya. krn biasanya pada hari pertama setelah operasi, dokter pasti membukanya dan melihat perkembangan tingkat kekeringan luka operasi. tapi sudahlah, harus terima kenyataan dua kali dokter datang hanya memeriksa hanya mengecek perkembangan HB yang drop, liat msh bleeding or not sama nanya2 perkembangan metabolisme tubuhku aja.

senin pagi kondisi bebe berubah. tiba2 naek bilirubinnya dari poin 4 jadi 11 (disuruh ditinggal buat disinar, tapi aku dan hubby menolak dan memilih treatment di rumah sendiri jemur2, dihangatkan pake lampu 60watt dan ASI, tentunya sambil cek bilirubin sendiri ke lab). aku udah gak kuat pengen pulang. makanya kupaksakan bisa berjalan agak tegak tanpa mengeluh sakit, supaya bisa segera sampai rumah. kangen 'bau'nya banget, kangen anak2 juga dan ingin segera menyongsong realita hidup sebenarnya di luar sana.

healing di rumah dengan semua perasaan lebih ringan ternyata lebih cepat mengeringkan semua luka. luka2 bekas plester yang perih itu mudah kering dengan parutan kunyit plus minyak goreng hangat juga gosokan lidah buaya dari depan rumah.

here im at 13th days at home, udah bisa pake WC jongkok, masak, nyuci2, ngurus tiga anak, belanja ke supermarket deket rumah, ngurus banking, dll. ngerasa siap banget kalo musti kerja lagi (heheee)....

dalam keadaan apapun, diinginkan atau tidak, setiap kelahiran adalah kisah heroik bagi setiap ibu. sekaligus sebuah awal cerita buat anak kenapa musti sayang sama ibunya...

setelah luka kering, kembali ke aktivitas normal. kisah melahirkan itu--sesakit apapun-- akhirnya hanya menjadi satu awal dari perjuangan lebih panjang untuk membesarkan mereka dalam keadaan aman, nyaman dan penuh kasih sayang...