hmmm sebenernya rada gimana mikirin diri sendiri. secaranya minder wardeg sama orang2 bertitel, karena emang semangat sekolah yang makin lama makin menurun.
kuputuskan hidup ini sebagai universitas tanpa batas. untuk memberi dorongan dalam setiap langkah lebih berguna buat keluarga dan orang lain, walaupun hidup tanpa ijasah S1.
percaya nggak? sejak lulus februari 2002, aku belom ngambil ijasah dan nggak pernah bermasalah dengan pekerjaan hanya gara-gara hidup tanpa ijasah itu.
aku bukan orang yang mengkultuskan sebuah pendidikan formal? emang iya. aku pikir setiap hari adalah pendidikan mental dan moral spiritual atas interaksiku dengan banyak orang, lingkungan dan alam.
aku pengin kayak ajip rosidi, pemikiran hebat, belajar otodidak dari banyak bacaan genre sastra dan budaya. dia nggak pernah punya ijasah sma tapi bisa jadi pengajar di universitas bergengsi dan menjadi warga kehormatan di negri matahari terbit selama puluhan tahun.
apakah aku bisa bertahan tanpa ijasah? kayaknya iya.
sahabat tua ku pun hingga dia hidup dan bekerja di jerman lebih dari 7 tahun sampai sekarang dalam posisi sama. dia belom ngambil ijasah di kampus kami sampai kini beranak dua.
mau ketawa? silahkan tertawakan. tapi inilah pilihan hidup. untuk menjadi berguna tanpa ijasah.
nggak perlu diperbandingkan gengsinya di depan manusia formal. alhamdulillah masing berhadapan dengan lebih banyak orang yang menganggap skill memegang peranan penting dalam bertahan hidup.
sebenernya bingung juga sama skenario tuhan atas hidupku.
aku malas berijasah sarjana. tak mengkoleksi foto2 wisuda lengkap dengan toga dan pamer ijasah. tapi tuhan maha pemaaf dengan memberikan aku kesempatan membantu dua teman membuat penelitian thesis hingga menuliskannya, salah satunya bahkan mahasiswa internasional....
aku pikir, otakku sudah bisa mengikuti alur penelitian warga S2 heheee
ternyata challenge lain diberikan tuhan yang maha humoris atas hidupku. aku duduk berhari-hari mengedit 430 halaman desertasi doktor untuk sahabatku yang lain.
alamaaaakkkkk sulit membayangkan bagaimana mungkin warga tak berijasah ini merambah otak dan tangannya menyetarakan diri dengan warga S2 dan S3?
jangan dibayangkan. aku hanya merasa makin hari tuhan menyudutkan aku agar merasa bahwa ijasah sudah nggak jaman. walaupun otak terus diberi kesempatan menyetarakan pikiran dengan warga hingga sekelas S3...
here i'm, the paperless doctoral should be
wkwkwkwkkkkkk
Sabtu, 25 Juni 2011
Rabu, 22 Juni 2011
cepat panjang kakimu, Nak
menakar ukuran kaki anak-anak adalah momen mengamati pertumbuhan fisik mereka. karena agak susah menemukan kaki orang dewasa terus memanjang *kebayang setaun aja naik satu nomor dari awal lahir, usia 35 taun udah sepanjang apa?
pas lagi leyeh-leyeh di kamar, gak sengaja memandang keluar ke ruang tamu agak kaget liat sepasang kaki. sepasang kaki itu keliatan banget panjangnya pas selonjoran karena sudah lewat satu lebar laci lemari yang cuma sekitar 30CM.
karena cuma liat kaki, gak liat badannya, sepintas kupikir itu kaki ponakan pertama. tapi kok ya kurang jebrag n item sesuai fisik ponakan. sempet nyangka itu ukuran kaki kakakku yang pake sepatu nomor 36.penasarn kutengok, eh si kakak ternyata.jadi mikirin telapak kaki panjang itu. sekarang udah pake sepatu nomor 35, sebenar lagi nyusul induk semangnya yakni kakakku nomer dua.
pas mikir, dia baru kelas 3 SD, kebayang mungkin kelas 6 kakinya bakal pake sepatu nomor 38 seperti emak yang melahirkannya.sepekan lalu ukuran kaki si memed juga nambah setelah diketahui ujung2 kakinya memutih seperti hendak lecet setelah seharian memakai sepatu tertutup. jadilah dia memakai nomor 23 sekarang. sedangkan si teteh yang masih 5 taun memakai nomor 28 ato 29 untuk kaki mungilnya.hmmm cepat sekali kalian bertumbuh Nak...kayak kerasa baru kemarin hamil dengan perut besar terus dibawa bekerja, naik motor keliling2...kemudian berhenti setelah harinya bertanda hendak melahirkan.
waktu berjalan cepat, kalian akan cepat2 besar dan memilih sepatu sendiri, bahkan membelinya dengan uang kalian.tugas orangtua juga akan semakin mengikis. tapi pikir punya pikir, apa sebenarnya yang sudah aku lakukan buat kalian?mungkin cuma hal minim karena miskinnya waktu yang aku punya...tak sesempurna ibu2 lain yang bisa meluangkan waktu 24 jam seharian mengasuh anak2nya dengan perlindungan maksimal. mengantar anak2nya sekolah, pergi les, menyuapinya setiap waktu makan tiba, mengelus dan memeluknya setiap saat mereka menangis.
melihat diri sendiri? aku memang ibu si miskin waktu...yang membiarkan anak2 tumbuh dengan pengasuhan orang lain di siang hari...dan rasanya menjadi tak full saat menikmati pertumbuhan kaki-kaki mereka memanjang dengan tubuh-tubuh mungil yang meninggi.semakin anak-anak besar, semakin merasa apa sebenarnya yang sudah aku lakukan untuk mereka?
semoga cuma tak sekedar bertanya dan merasa sampai menunggu terlambat untuk berbuat. amin...
pas lagi leyeh-leyeh di kamar, gak sengaja memandang keluar ke ruang tamu agak kaget liat sepasang kaki. sepasang kaki itu keliatan banget panjangnya pas selonjoran karena sudah lewat satu lebar laci lemari yang cuma sekitar 30CM.
karena cuma liat kaki, gak liat badannya, sepintas kupikir itu kaki ponakan pertama. tapi kok ya kurang jebrag n item sesuai fisik ponakan. sempet nyangka itu ukuran kaki kakakku yang pake sepatu nomor 36.penasarn kutengok, eh si kakak ternyata.jadi mikirin telapak kaki panjang itu. sekarang udah pake sepatu nomor 35, sebenar lagi nyusul induk semangnya yakni kakakku nomer dua.
pas mikir, dia baru kelas 3 SD, kebayang mungkin kelas 6 kakinya bakal pake sepatu nomor 38 seperti emak yang melahirkannya.sepekan lalu ukuran kaki si memed juga nambah setelah diketahui ujung2 kakinya memutih seperti hendak lecet setelah seharian memakai sepatu tertutup. jadilah dia memakai nomor 23 sekarang. sedangkan si teteh yang masih 5 taun memakai nomor 28 ato 29 untuk kaki mungilnya.hmmm cepat sekali kalian bertumbuh Nak...kayak kerasa baru kemarin hamil dengan perut besar terus dibawa bekerja, naik motor keliling2...kemudian berhenti setelah harinya bertanda hendak melahirkan.
waktu berjalan cepat, kalian akan cepat2 besar dan memilih sepatu sendiri, bahkan membelinya dengan uang kalian.tugas orangtua juga akan semakin mengikis. tapi pikir punya pikir, apa sebenarnya yang sudah aku lakukan buat kalian?mungkin cuma hal minim karena miskinnya waktu yang aku punya...tak sesempurna ibu2 lain yang bisa meluangkan waktu 24 jam seharian mengasuh anak2nya dengan perlindungan maksimal. mengantar anak2nya sekolah, pergi les, menyuapinya setiap waktu makan tiba, mengelus dan memeluknya setiap saat mereka menangis.
melihat diri sendiri? aku memang ibu si miskin waktu...yang membiarkan anak2 tumbuh dengan pengasuhan orang lain di siang hari...dan rasanya menjadi tak full saat menikmati pertumbuhan kaki-kaki mereka memanjang dengan tubuh-tubuh mungil yang meninggi.semakin anak-anak besar, semakin merasa apa sebenarnya yang sudah aku lakukan untuk mereka?
semoga cuma tak sekedar bertanya dan merasa sampai menunggu terlambat untuk berbuat. amin...
Langganan:
Komentar (Atom)