Sabtu, 25 Juni 2011

paperless doctoral

hmmm sebenernya rada gimana mikirin diri sendiri. secaranya minder wardeg sama orang2 bertitel, karena emang semangat sekolah yang makin lama makin menurun.

kuputuskan hidup ini sebagai universitas tanpa batas. untuk memberi dorongan dalam setiap langkah lebih berguna buat keluarga dan orang lain, walaupun hidup tanpa ijasah S1.

percaya nggak? sejak lulus februari 2002, aku belom ngambil ijasah dan nggak pernah bermasalah dengan pekerjaan hanya gara-gara hidup tanpa ijasah itu.

aku bukan orang yang mengkultuskan sebuah pendidikan formal? emang iya. aku pikir setiap hari adalah pendidikan mental dan moral spiritual atas interaksiku dengan banyak orang, lingkungan dan alam.

aku pengin kayak ajip rosidi, pemikiran hebat, belajar otodidak dari banyak bacaan genre sastra dan budaya. dia nggak pernah punya ijasah sma tapi bisa jadi pengajar di universitas bergengsi dan menjadi warga kehormatan di negri matahari terbit selama puluhan tahun.

apakah aku bisa bertahan tanpa ijasah? kayaknya iya.

sahabat tua ku pun hingga dia hidup dan bekerja di jerman lebih dari 7 tahun sampai sekarang dalam posisi sama. dia belom ngambil ijasah di kampus kami sampai kini beranak dua.

mau ketawa? silahkan tertawakan. tapi inilah pilihan hidup. untuk menjadi berguna tanpa ijasah.

nggak perlu diperbandingkan gengsinya di depan manusia formal. alhamdulillah masing berhadapan dengan lebih banyak orang yang menganggap skill memegang peranan penting dalam bertahan hidup.

sebenernya bingung juga sama skenario tuhan atas hidupku.

aku malas berijasah sarjana. tak mengkoleksi foto2 wisuda lengkap dengan toga dan pamer ijasah. tapi tuhan maha pemaaf dengan memberikan aku kesempatan membantu dua teman membuat penelitian thesis hingga menuliskannya, salah satunya bahkan mahasiswa internasional....

aku pikir, otakku sudah bisa mengikuti alur penelitian warga S2 heheee

ternyata challenge lain diberikan tuhan yang maha humoris atas hidupku. aku duduk berhari-hari mengedit 430 halaman desertasi doktor untuk sahabatku yang lain.

alamaaaakkkkk sulit membayangkan bagaimana mungkin warga tak berijasah ini merambah otak dan tangannya menyetarakan diri dengan warga S2 dan S3?

jangan dibayangkan. aku hanya merasa makin hari tuhan menyudutkan aku agar merasa bahwa ijasah sudah nggak jaman. walaupun otak terus diberi kesempatan menyetarakan pikiran dengan warga hingga sekelas S3...

here i'm, the paperless doctoral should be

wkwkwkwkkkkkk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar