Senin, 25 Agustus 2014

so life has just begun? :P

memasuki usia 40 tahu memutuskan berhenti bekerja setelah 14 tahun. mulai membangun mimpi sendiri jadi entrepreneur. lil bit worry to face tomorrow. but so sure, there's a will there's a way.

tapi nyatanya memang godaan lain lebih menyenangkan. tergoda jadi volunteer sepanjang pemilu presiden. sudah pun presiden terpilih eh masih ketagihan jadi volunteer. mimpi utama pun belum jadi digarap.

yaa sudah lah. hidup harus tetap bergulir. nggak perlu pusing mikirin apa yang harus lebih dulu dikerjakan. sepanjang punya nilai baik. sepanjang nggak meninggalkan tugas inti as a housewife.



bertemu banyak orang baru dengan banyak perspektif. tapi anehnya aku hanya bertahan berteman dengan beberapa teman yang lama. ide dan kepentingan sudah berbeda. ibukota ini membentuk banyak pribadi menjadi lebih egois dan konsumtif.

alhamdulillah dipertemukan dengan lebih banyak orang yang seide..tak memikirkan hidup hanya untuk makan dan mencapai hal-hal material dalam hidup di dunia. aku menikmatinya.

sambil masak, ngasuh anak, chat dengan teman dari berbagai negara dan kota untuk satu tujuan yang sama. membuat perubahan untuk masa depan yang baik bagi anak cucu.

walo kadang dipandang nyinyir, yo wis lah. tak peduli.

makin berumur makin merasa orang nyinyir ada selalu sepanjang masa. buat apa ditanggapi.

teori yang sering kuterapkan: jangan dilawan, buat mereka menjadi tidak relevan!

sejatinya hidup memang mencari yang sesuai dengan ide, prinsip dan kepentingan yang lebih bersifat long term. dunia akhirat.

alhamdulillah sejauh ini hubby mendukung. walau terkadang harus bepergian malam di ibukota.

sedikit demi sedikit usaha yang ditekuni setahun sudah mulai kelihatan 'bentuknya'. aku sangat bersemangat menyongsong besok, besok dan lusa kemudian.

aku menemukan banyak hal baru yang tak terpikir sebelumnya saat aku bekerja terikat deadline. i feel free, kata syahrini :P


Jumat, 02 November 2012

life is beautiful @toilet

anak-anak dikirimi hiasan tempel dinding yang menempel seperti poster --entah apa nama kerennya-- oleh sepupu mereka di bandung....sebelumnya aku dan hubby memasang poster sejenis di kamar kami biar tampak 'segar'. anak-anak senang memasangnya. tidak lebih dari 30 menit untuk memasang poster yang semi puzzle krn berbentuk potongan2 yang merangkai sebuah gambar besar....

tapi ternyata walaupun kalimat 'life is beautiful' sangat cantik didengar...anak2 ingin poster dipasang 'bersih' dari tulisan (mungkin karena mereka sudah merasa cukup merasakan hidup indah itu terasa di dada :P)




sementara hubby merasa sayang membuang kalimat itu. sehingga dengan ide 'miring'nya dia memasang sisa poster di pintu masuk toilet :D




life is beautiful kiddos if u really know that life is not just to eat but how well its waste bwahahahaaa :P

bertetangga

mendapati banyak keluarga muda menjadi tetangga kami di kompleks pemukiman kecil di tengah penduduk Betawi pinggiran menjadi hal baru. saat tinggal di tanah kelahiran, kami bertetangga dengan banyak penduduk senior sehingga kami belajar menjadi orang muda yang berteman dengan orang tua.

tanpa persiapan apapun, kini kami harus belajar ilmu baru berteman dengan orang-orang muda yang cukup emosional, sulit menentukan nilai hidup sebenar, dengan persaingan materi antar rumah tangga yang mencolok. kebanyakan mereka memiliki kendaraan sebelum memutuskan membeli rumah. gaya hidup mereka sangat berbeda dengan kami.

kami berdua sangat senang berada di rumah. bercengkrama dengan anak-anak. main masak-masakan, makan bersama di teras belakang atau bermain basket bersama. kami merasa di sini menjadi kelaurga utuh. sehingga akhir pekan benar-benar dijadikan momen menuntaskan kegelisahan sang ayah yang kehilangan banyak waktu bersama di hari kerja.

tetangga depan rumah, kadang meninggalkan empat anaknya (mungkin sudah terbiasa), sementara kedua orang tuanya pergi. tak terlalu memperhatikan apakah anak-anak sudah sarapan, makan siang, makan malam...semua urusan adalah urusan pembantu.

tapi aslinya kami merasa perlu menularkan semangat sulung tetangga depan yang hebat untuk ukuran anak kelas 6 SD menjaga adik-adiknya. dia selalu mengajak serta tiga adiknya kemanapun dia pergi. itu contoh yang bagus buat anak2 kami.

aku tak bisa memberikan apresiasi berlebih. dari keluarga depan rumah kami belajar bagaimana membiasakan anak mandiri, ternyata. aku sangat senang melihat mereka melahap sekedar penganan tahu goreng krispi, bakwan, sosis gulung mie, ato apa saja yang aku biasa buat utk kudapan anak-anak. mungkin apresiasi yang sangat minimal. ato hanya sekedar menceritakan ihwal suatu kejadian di sekitar, berita-berita televisi yang sangat sering ditanyakan anak sulung mereka.

sementara ada spasangan memiliki lima anak yang anak sulungnya baru kelas 3 SD. terbayang sulitnya mereka mengasuh anak-anak --sementara ibu bapak bekerja--dengan pertolongan hanya satu asisten rumah tangga yg pulang hari. ruarrr biasa. sama denganku, mereka meliburkan asisten rumah tangga mereka pada akhir pekan.

nah, lain soal dengan tiga keluarga yang masing-masing  punya anak satu. aneh. ibu mereka tinggal di rumah punya asisten rumah tangga full-time untuk mengasuh hingga membereskan semua pekerjaan rumah. tapi ternyata asisten-asisten mereka berganti-ganti.

so much fun to learn about neighbourhood around....our treatment of other people make the difference on how people treat us....enjoy the life, kiddos...growing up with every single of each others faults and strengths to make the best of u :*

Minggu, 26 Agustus 2012

a new beginning

after 38 years lived in my hometown, biggest decission has been made. i moved to another town near Jakarta. here I'm as WTS (wanita turut suami :P) with 3 lil girls starting a new beginning as a 'normal' family...

it should be a hardest part of life when you have to start everything at 38 years old, but already passed.

i dont hope any spectacular leap in my last career whether i moved closer to my head office.i decided to work from home by majoring housewife as my primary career.

then, i helped my friends to write and edit some books to publish, receiving some orders as ghost writers as usual, making some feature stories, while enjoying another job as online seller....and of course, still working form distance as local media analyst for two big companies. all orders done on the sidelines cooking, taking care of my girls and hubby, and all household business...





busy already. but happy then to keep on eyes my lil girls growing up minute to minute :)

Rabu, 07 September 2011

dari tas mikir kualitas (teman)

hubby belikan tas kulit baru. ibaratnya barter. krn tas punggung yg dibeli di jkt terlalu cowok dan agak ribet kalo kupake, hubby memakainya. sbg gantinya aku minta dibelikan tas simple yg muat semua barang2 dan alat kerjaku.

nah pas dipake pertama. temen2 pada bilang bagus. keren. trus preksa2 merk. sampe ada yang nyiumin baunya segala. "kulit asli!" beuhhh

agak malu jadi memakainya. krn aku lebih tekankan fungsi dan kenyamanan memakai. mereka melihat dari kacamata model, merk dan taksiran harga.

aku bbm hubby ttg kejadian itu. hubby bilang sok dijawab,"ya jelas keren, orang yang mbeliinnya juga keren" whewhhh geuleuh.

aku cuma bilang, gitu ya pergaulan. kalo aku sengsara, mereka masih mau berteman gak? heheheee

bukan bermaksud mempertanyakan pertemanan. perjalanan,pengalaman berteman memang sebuah ujian kesetiaan yang gak mudah diukur hanya dengan perkataan.

saya nggak mau njelimet mengukur pertemanan. tapi nyatanya memang akhirnya berpikir, kalo saya bukan siapa2, apa mereka masih mau jadi teman saya?

kata suhu kalimat bijak, Mario Teguh--sahabat buruk itu seperti bayangan, dia ada saat terang dan menghilang di saat gelap--

i've found a lot of good and great friends so far.tentunya yang sudah teruji melewati itu semua...alhamdulillah. cuma teman2 di suasana bekerja memang lain, mereka datang dan pergi seperti biasa...ada yang baik, ada yang nyebelin...saya menikmatinya.

dari tas itu saya merasa gak perlu berpikir lebih jauh lagi. toh saat mereka komentar pun, itu sudah menunjukan perhatian. itu sesuatu, tentu :)

lebaran berbeda selalu so lovely


berdua gak ambil cuti lebaran. krn hubby harus berangkat usai lebaran ke suatu tempat buat diskusi ttg suatu hal. tapi aslinya sangat menikmati liburan yang hanya tiga hari. full barengan kemana2. makan bareng. jajan bareng. dan tidur siang yang istimewa (jarang bisa take a nap kalo hari biasa).

aroma lebaran kali ini harus kembali menerangkan kepada anak2 kenapa memutuskan berbeda lebaran, bukan karena berkiblat ke arab ato kami muhammadiyah.

islam itu gak mengenal batas negara. kita ber-islam mengikuti agama rahmatan lil'alamin yang kebetulan berpusat di arab sebagai kiblat ritual. nah, soal lebaran memang setiap tahun kami nggak berpatokan pada sidang isbat versi pemerintah. indonesia meratifikasi konvensi OKI untuk gunakan hilal berdasarkan kawasan, tapi kurang memperhatikan konsideran negara2 sekitar yang punya pengamatan lebih canggih dan terpercaya.

dalam beragama, jelas aku bukan lulusan pesantren kayak hubby. tapi berupaya melakukan pencarian. dan aku merasa logika harus digunakan sebagai energi berpikir mencari yang benar dalam berkeyakinan. sampai akhirnya aku menemukan jejaring muslim muda yang sama2 dalam pencarian. tapi sekali lagi, kami bukan muhammadiyah.

sebelum menentukan puasa, sholat ied kurban ato lebaran, kami selalu menunggu keputusan negara2 sekitar. malaysia yang punya 30 titik pengamatan hilal, brunei, s'pore termasuk aussie. indonesia yang cuma 14 titik pengamatan selalu berbeda karena ada patokan dua derajat yang kalo dikonfirmasi ke ahli astronomi bener juga gak ada konsideran untuk menyatakan bahwa kalo gak dua derajat gak bisa disebut bulan baru. nah kalo udah kasat mata kelihatan kumaha?

hilal udah keliatan di 3 titik walo belum dua derajat. tapi itu dinafikan begitu saja tahun ini. entah ada apa dengan sidang isbat.

sementara umat islam di indonesia, bisa duduk kritis sbg warga negara, tapi masih berkali lipat jika harus berpikir kritis sebagai umat. karena merasa kalau pemerintah salah, biar saja dosa ditanggung mereka. padahal agama ini diciptakan hanya untuk orang-orang yang berpikir. like parachutes. they work best when opened.

saat memandang islam, harusnya memandang sebagai satu sistem mendunia. dia tidak terkotak-kotak dalam negara. apalagi banyak konstruksi koruptif dalam pengambilan kebijakan beragama dalam sebuah negara. itu musti menjadi catatan penting untuk meluruskan shaf dalam beragama.

saat memutuskan berlebaran selasa pun, senin sore teman sudah menelpon bahwa s'pore, m'sia dan aussie di pulau yg wilayahnya terdekat 2 jam dari indonesia akan berlebaran selasa. so kami putuskan lebaran selasa.

tanpa diduga yang lebaran selasa banyak dan hampir gak dapet tempat. gak semua mereka muhammadiyah ato berkiblat ke arab. tapi banyak janggalnya sidang isbat. termasuk persoalan adu domba yang disiarkan televisi ternyata banyak mempengaruhi pendapat.

abis sholat selasa subuh, temen di bandung yang baru pulang dari US kirim text message kalo dia masih percaya untuk puasa pada hari itu. karena di sidang isbat disebutkan m'sia dan brunei juga lebaran rabu. aduh mis-leading lagi deh pemerintah. aku bilang kalo m'sia dan negara2 kawasan di asia-aussie kecuali selandia baru memutuskan selasa. akhirnya dia kroscek dan shock memikirkan kenapa sidang isbat bisa berdusta? apalagi dia akhirnya googling kalo dalam sidang isbat disebutkan 3 titik melihat hilal, tapi dinafikan krn secara astronomi (di satu aliran, kan aliran astronomi juga banyak) blm masuk bulan baru. hanya gara2 dua derajat yg sangat debatable.

males memasukan soal riwayat nabi yang tidak mempertanyakan brp derajat dan brp jauh orang yang melihat hilal datang padanya sehingga dia membatalkan puasa. aku cuma pakai logika awam dan selalu bermohon pada yang maha kuasa untuk ditunjukan pada pencarian di jalan yang benar. bukan menurut aku, suamiku, keluargaku, tapi menurut islam sejatinya.

akhirnya temanku pun batal puasa dan berlebaran pada hari itu. insyaAllah aku gak merasa hebat untuk menundukan logika dia ttg sidang isbat. krn yakin dia pintar dan berlogika hingga berdebat kritis mempertanyakan keputusanku. aku senang karena ada dialog di dalamnya. dia memutuskan juga mencari konsideran2 lain, mempertanyakan keputusanku sampai bertanya pada mufti-nya di US ttg masalah ini.

semua punya alasan buat mempercayai atau tidak percaya sidang isbat. aku yakin, nanti saat dihisab kita akan ditanya dasar berpikir saja. jadi jangan masalahkan kenapa kita berbeda, apalagi sampai mentertawakan kelompok sedikit yang sholat hari selasa karena gak ngikutin mainstream umat berlebaran di hari rabu.

seperti seorang tetangga yang menyindir,"males aja puasa lagi ya, jadi lebaran selasa!"

insyaAllah aku memaafkan orang2 seperti itu yang berpendapat miring ttg orang yang memilih lain. akhirnya hanya allah yang berhak menentukan kebenarannya. semoga jika pun salah, dia memaafkan aku yang masih dalam pencarian ini.

lebaran berbeda sejak aku menikah dengan hubby adalah hal biasa. keluarga memaklumi. dari lima anak, hanya dua anak orang tuaku yang tak ikut kata sidang isbat. karenanya, walo berbeda, kakak tertua yang kebetulan guru dan istri tentara selalu merasa wajib mengikuti lebaran versi pemerintah pun mengerti betul pilihan kami.

dia sudah terbiasa memasakan ketupat,opor,dan macam lainnya untuk diantar ke rumah kami sehari sblm lebaran versi pemerintah hehee....alhamdulillah. secaranya dia paham aku selalu malas masak berat seperti itu...apalagi hubby gak suka ketupat,opor, paling banter masih masuk sambal goreng kentang.

alhamdulillah beda ini masih selalu indah di keluarga kami. tak pernah menyangsikan dan memaksakan mereka untuk ikut bersama pendapat kami. tapi kakak dan adik2ku merasa berbeda lebaran tak jadi pembeda. kami tetap satu saudara, menikmati menjadi umat dengan segala alur logika untuk mencari kebenaran hakiki.

Selasa, 23 Agustus 2011

perhiasan perempuan

ngomongin perhiasan emang selalu identik dengan kesukaan perempuan. sok aja kan, suka geli gitu liat laki-laki pake gelang, cincin gede ato kalung emas (belom lagi pas nyengir giginya emas juga hahaa)

oneday, sekretaris memperlihatkan foto teman2 mainnya diantaranya ibu2 dengan wajah cantik dan berat banget tema perhiasannya. biar keliatan kalungnya, ibu2 berkerudung sengaja beli kalung panjaaaang dijuntaikan sampe ke bawah kerudung. kalo giwangnya nggak keliatan, ya dicobain biar keliatan dengan menempelkan kerudung hingga ke telinga, kemudian memberikan sedikit celah agar ujung kuping bagian tindiknya nongol, maka terlihatlah perhiasannya.

nah sekretaris cerita lagi. ada temennya cowok merasa selalu harus memakmurkan istrinya dengan berbagai perhiasan mencolok. dia akan merasa bangga, puas dan bergengsi jika orang2 melihat istrinya seperti toko emas berjalan yang merepresentasikan daya beli nya sebagai lelaki. its all about pride.

pas waktu mertua masih jadi camer, dia nanya sama hubby tentang perhiasan yang aku sukai. hubby bilang kalo aku gak pernah keliatan pake (ya karena gak punya kalee>?:P) jadi dia pikir sembarang aja mau ngasih emas bentuk gimana.

so waktu hantaran diberikan (exluded mas kawin, krn mas kawin aku mau sesuai kemampuan hubby membeliku, so he gave me 1 million in cash :D), agak kaget karena berjuntaian itu gelang,kalung,giwang,cincin beratnya lebih dari 30 gram?

sebagai orang gak pernah punya koleksi (kecuali cincin n giwang yang juga jarang dipake) aku terkaget2. merasa gak memprediksi mertua perempuan akan 'menghargai'ku sebanyak itu. ada beberapa kali perhiasan dipake, sebelum akhirnya memutuskan meleburkannya dalam bentuk batangan untuk menghindari kebingungan memakai dan sifat lupa dimana menyimpannya.

sampai akhirnya anak2 perempuanku mulai suka pakai cincin dan bertanya kenapa mereka tidak ditindik sejak bayi dan dihiasi telinganya dengan anting2 seperti anak2 perempuan lain. untuk cincin, aku belikan mereka dari tabungan yang mereka simpan (dari sisa uang jajan dan pemberian). cincin itu ternyata gak awet juga mereka pakai, cepat bosan dan akhirnya menjadi penghuni kotak perhiasan kayu pemberian temanku di bangkok yang mereka simpan di lemari.

tak menindik telinga tiga anak perempuan jadi pertanyaan banyak orang buat kami, di saat trend 'body piercing' makin mendunia. islam tidak mengenal budaya tindik. yang digariskan adalah membedakan perempuan dan lelaki dari pakaian yang lebih melindungi aurat sesuai dengan jenis kelamin masing-masing (batasan auratnya jelas).

jelasnya lagi, kami gak mau menyakiti bayi kami sejak dini hingga menimbulkan trauma mendalam tentang kesakitan yang dirasakannya. selain banyak googling dan cari referensi tentang urgensi tindik. seperti juga budaya sunat perempuan yang ternyata cuma mitos yang menurut refrensi diciptakan oleh raja-raja untuk menekan libido seksual perempuan. sama halnya dengan budaya tindik.

balik ke soal tindik yang memang gak diatur dalam islam, kami memilih menyerahkan sepenuhnya keputusan atas itu kepada anak2 kelak kalau sudah besar. karena tubuh mereka adalah hak mereka. sepanjang tidak melanggar aturan agama, go ahead gals!

terlebih kami ingin mereka tidak menonjolkan perhiasan hanya berdasar ingin dilihat lebih status sosialnya di mata manusia. tapi lebih mementingkan sebaik2nya perhiasan perempuan di mata tuhannya.

perjalanan seperti ini terlihat remeh dan tidak umum. hanya ingat satu firman tuhan bahwa beragama yang benar itu nantinya akan seperti barang aneh. ini jalan sunyi dan butuh kekuatan hati dan pikiran agar tidak terjebak hanya mementingkan pendapat manusia dan menafikan pendapat tuhan. semoga kalian mengerti, anak2ku :)