
suatu siang terik seorang sahabat dari sebrang pulang BBM,"got a minute Bu?", aku jawab,"yup?"
hmmm cerita punya cerita dia deg-degan dengan hasil pap-smears dia yang not too good. there's carcinoma cells found in her servix. dia bilang ironis kalo bener itu kanker serviks, karena sebagai mantan wartawan bidang kesehatan, dia sering nulis soal kanker dan bagaimana mencegahnya.
"kalo emang iya aku positif, ironis oge karena dulu rajin bikin tulisan soal si serviks ini. banyak dokter nawarin tes ini itu tapi aku nggak diambil. just likes a wake up call"
hmmm mau dibilang apa, emang aku belum pernah periksa aja, komenku mungkin kurang pas. aku cuma saran untuk cari seken opini. kalau pun benar, yuk mulai ikhtiar berobat. aku bilang kalo aku di posisi dia pasti lebih down, karena anakku kan lebih banyak :P
dia ketawa....
merunut sejarah hidup bersahabat dan berteman. kabar soal perempuan kena tumor ato kanker makin merembet deket di sekelilingku. sahabatku sendiri wafat november 2010 lalu, nggak bisa bertahan pasca operasi tumor pembuluh darah. kasusnya langka yaa diperkirakan hanya 80 orang di dunia ini yang kenak tumor jenis itu.
dia bukan sahabat pertama yang meninggal kena tumor, waktu kuliah awal kerja dulu di radio, kehilangan candra lukitantriani yang akhirnya juga nggak kuat bertahan karena tumor otak.
setiap kehilangan adalah masa-masa manis yang patut dikenang. tak peduli pernah bertengkar, berdebat ato saling ejek sehebat atau semenyakitkan apapun. kehilangan adalah kehilangan, yang selalu menyisakan kenangan manis, menyisakan penyesalan kenapa dulu gue nggak meluangkan lebih banyak waktu sama dia, nggak berbuat lebih baik sama dia, nggak bawa dia jalan-jalan ke taman safari dan dufan seperti keinginannya mengajak serta anak-anakku bla bla blaa.....
setelah kehilangan november lalu. aku selalu teringat dengan foto ini.
gara-garanya banyak ikut macem2 seminar kesehatan sampe keselamatan kerja. aku terpengaruh. banyak foto-foto masa lalu dicatat sebagai sejarah yang di negara lain diteliti lebih dalam. seperti saat mendengar pemaparan orang kanada dan amerika tentang dampak asbestos yang menimbulkan kanker paru. diperlihatkan foto para karyawan di sebuah pabrik di china. di foto dengan lebih dari 10 orang di dalamnya, nyaris semuanya disilang sudah meninggal akibat kanker. diduga kuat mereka meninggal sebagai dampak pemakaian asbestos di lingkungan pabrik mereka.
thats why, aku selalu liat foto-foto lama terutama foto ini. karena dua temanku yang wafat berjalan berdampingan. aku sempat sms sama sahabatku satu kamar kos waktu di jatinangor, menceritakan soal ini. dan dia mendepak semua pikiran burukku tentang foto ini karena dia juga punya foto dengan komposisi sejenis yang ada dia di dalamnya.
akhirnya aku melupakan pikiran buruk itu.
setiap kali kudengar teman kena tumor, kanker atau penyakit lain menjadi sebuah peringatan yang malas aku follow up. aku belum pernah cek papsmears, mamo, dan men-scan semua organ tubuhku untuk mencari penyakit yang bersarang di dalam tubuhku. mungkin aku takut. mungkin aku pengecut :P
ya sudahlah. memang aku pengecut, apa mau dikata :D
di luar itu. setiap penyakit yang menyambangi siapapun di sekitarku kebanyakan hanya dijadikan sebuah pikiran baru bahwa sebenarnya mungkin mereka dipilih untuk lebih serius dan menjalani hidup dengan tujuan lebih jelas. menyerahkan segalanya pada sesuatu yang kekal. from ash to ash, from dust to dust....
saat kemudian aku bertemu seorang ibu cantik yang dulu punya hidup bagus, tak pernah susah sedari kecil dan jatuh sakit pada usia 33 tahun. sebuah sakit yang sulit sembuh. tapi kemudian dia tersadar dengan penyakit itu. just likes a wake up call, sudah saatnya dia berbuat banyak untuk orang lain.
"aku jalani hidup dulu 'life as usual', sekolah, kuliah, menikah, dapat kerja bagus. tapi itu semua kan untuk diri sendiri, mungkin sekarang jalannya aku berpikir untuk orang lain," kata ibu tanpa anak yang kini 46 tahun dan sudah memasuki tahun ke 13 menjalani 'sakitnya' yang penuh berkah. harta akhirnya bukan segalanya. dia hibahkan banyak hartanya untuk menggulirkan modal abadi untuk yayasan sosial yang dikelola. untuk menautkan 'hidup' pada kehidupan selanjutnya....
hmmm...aku berpikir betapa lamban sebagai orang sehat memacu sel-sel 'sosial' dalam diriku sendiri. apa karena mungkin aku berpikir akan hidup selamanya, bahagia dengan pacar dan tiga gadis kecilku??? karena aku belum terdeteksi sakit? sehingga berpikir masih panjang usia untuk disita oleh yang 'maha punya'. aku akui pikiranku sempit.
jadi kenapa aku harus menunggu sakit sebagai alarm menghidupkan sel-sel 'sosial' itu? kalau ibu itu sudah berlomba bersama orang-orang sakitnya mempersiapkan kehidupan kekal, lantas aku sudah berbuat apa untuk suatu yang kekal itu?
oh aku nggak menunggu sakit toh aku punya pikiran, kalo nanti uangku lebih banyak sebagian akan kuberikan sebagai hibah untuk menggulirkan modal koperasi simpan pinjam buat teman2 pengajian yang kurang mampu. mungkin sebagian dihibahkan untuk pesantren yang lebih dari separuh siswanya dari kalangan nggak mampu. mungkin itu bisa dijadikan tabungan kekalku.
tapi kapan aku punya uang yang disebut sebagai 'lebih' itu?
saat aku pikir sempit terkunci di situ. tuhan mempertemukan aku dengan banyak ibu-ibu miskin yang bisa berkiprah di lingkungannya sebagai pahlawan lingkungan, pahlawan penangkis serangan narkoba dan epidemi hiv/aids, pahlawan untuk keadilan jender dan hukum, dll
aku menemui mereka di gang-gang sempit, di jalan-jalan terjal di pegunungan dengan banyak keterbatasan. tapi nyatanya mereka mampu mengubah sesuatu di lingkungan sosial mereka, menghadirkan kehidupan lebih baik untuk banyak orang.
aku cuma terantuk malu. aku belum ketahuan sakit, aku belum tentu juga kaya raya. kok masih terus memperdebatkan bahwa someday aku bisa membuat sesuatu yang lebih berguna untuk orang lain...masih terus terpaku bahwa ibadah personal sholat 5 waktu dan mendidik anak di rumah adalah sesuatu??
apa harus nunggu sakit, nunggu kaya, untuk mengubah dunia???? hmmmm....
ya sudahlah, aku mulai menuliskan cerita ibu yang sakit dan ibu-ibu dengan keterbatasan uang mereka mengubah dunia sebagai reminder untuk diriku sendiri. setelah itu, aku pikirkan lebih jauh apa yang bisa aku lakukan dengan 'sehat' ku....
thanks for sending me those wake up calls, oh God.....