Kamis, 24 September 2009

mudik = menemukan oase iman

setiap mudik ke rumah mertua di sebuah dusun kecil pinggiran cilacap, setiap kali itu juga aku selalu menemukan sesuatu yang sebenarnya aku cari. ketertiban beribadah.

dia adalah sebuah rumah yang di belakangnya ada hampir 300 santri putri 'mondok' yang datang dari berbagai daerah dan kelompok sosial --kebanyakan menengah ke bawah-- yang selalu dipastikan sholat bareng beberapa saat setelah adzan berkumandang pada waktunya.

setelah itu jika siang mereka melanjutkan aktivitas belajar ato mengerjakan mberesin kamar ato ada juga yang leyeh2 nonton film terpilih. kalo malem ada aktivitas hafalan quran.

suasana yang bener2 belum pernah aku rasakan sepanjang hidup sampe alhamdulillah aku menikah dengan orang yang aku selalu berdoa dalam masa penantian panjang sebagai 'jomblo ceria', bisa jadi imamku untuk urusan dunia dan akhirat.

musim mudik taun ini adalah pertama kalinya kami mudik saat lebaran --biasanya mudik sebelum ato sesudah lebaran krn misua males kena macet barengan para pemudik yang bejibun--

dan ternyata memang perjuangannya lumayan berat pada dua hari menjelang lebaran, macet di nagrek-malangbong-ciawi baru lepas setelah ciamis membuat perjalanan mudik yang biasa plus leyeh2 makan dan istirahat hanya ditempuh maksimal 6 jam, ini sampe 13 jam. padahal aslinya, kami memilih memutar ke cijapati memotong waktu tempuh 2,5 jam daripada lewat nagrek yang membuat antre sampe lima jam.

sbg ibu hamil empat bulan jalur alternatif cijapati membuat perut berontak dan hubby harus berkali2 berhenti memberi kesempatan aku mengeluarkan isi lambung yang aseem bgt dah.

sesampainya di rumah mertua, langsung tidur, sholat qiyamul lail dan lagi2 menemukan subuh sholat jamaah di masjid blkg rumah dengan semua keluarga. hanya satu dari santri yang tinggal, semuanya mudik. dia seorang mualaf asal pekanbaru baru kelas satu aliyah. meski dikirim 700rb buat mudik, dia milih tetep mondok. gak jelas kenapa. betah kali....

abis sholat magrib disambung makan bareng, buka bareng semua keluarga misua lima bersaudara bersama ipar2 dan cucu2 plus ibu mertua. semua berjalan menyenangkan. andai ini terjadi setiap hari.

jadinya kalo pulang ke rumah lagi, terlibat banyak kesibukan dan tenggelam dengan berbagai pekerjaan, mudik selalu aku rindu. dimana ada sholat jamaah, ada petuah2 ibu mertua, ada banyak anak2 santri yang mengingatkan pada tujuan akhir hidup, ada kebahagiaan jiwa yang susah diungkap dg kata2.

saat pulang kemaren, bangun subuh kesiangan. aku pun nyeletuk sama hubby,"inilah yang berat buat aku kalo nggak mudik, nggak jelas waktunya kapan selalu sholat tepat waktu. makanya sering2 mudik heheee."

bagiku mudik sama dengan recharge tujuan hidup dan memurnikan urusan dunia dalam sebuah oase iman. alhamdulillah ya alloh Kau pertemukan aku dengan seseorang yang membawaku selalu mengingat mudik bukan sebuah hal sia2 yang terlalu banyak mudharat-nya ketimbang manfaat-nya, meskipun taun ini mudik kami agak panjang waktu tempuhnya..........

Rabu, 16 September 2009

zakat fitrah buat guru ngaji

saat ibuku masih hidup, kerap aku dan kakakku agak sewot kalo lebaran tiba, ibuku memberi zakat fitrah buat guru ngajinya yang sudah makmur punya rumah besar dan mobil pula.

karena ngerasa dia nggak pantes jadi penerima zakat fitrah, kecuali disalurkan pada para penerima yang sesuai dengan ata qur'an.

belakangan kakakku yang udah hampir tujuh taun ikut bersamaku keranjingan mengaji dengan ibu-ibu sekitar rumah. di luar banyak ritual dan baju seragam (emang ngaji sama dengan tentara?), aku masih tolerir sbg satu kegiatan positif, walo pasti pas pulang bawa cerita ini itu tentang ibu ani dan anu ato gosip terkini seputar tetangga yang kadang bikin telinga bebal mendengarnya.

lebaran empat hari ke depan dan semua sibuk menunaikan ibadah terakhir di bulan puasa.

aku sibuk mempersiapkan sembako dan berbagai kue-kue seperti biasa kulakukan dari tahun ke tahun buat tetangga dan sanak saudara yang kebetulan secara ekonomi masih belum beruntung pada lebaran kali ini. not so big and much, but hope it brings a little happiness for them lah niatnya mah.....

dan tadi malem, tiba2 kakakku minta duit 20rb katanya mo bayar zakat fitrah ke guru ngajinya yg baru dikenalnya sekitar enam bulan terakhir. yah, aku secaranya kecapean baru ngegang dan keujanan abis beli ini itu di indogrosir dengan perut membucit jadi agak napsong menanggapinya.

secaranya aku pun tau itu guru ngaji anaknya dah pada jadi n rumahnya tingkat di atas bukit dengan baju yang gonta ganti saban ngaji dan perhiasan. aku bilang kalo mo ngasih kue, ato sekedar penguat buat kegiatan pengajian oke, tapi buat zakat fitrah, dia sama skali gak layak. kecuali guru ngaji itu emang miskin ato banyak utang, kita sangat wajib menegakan dan menguatkan aqidahnya dengan fitrah dan zakat lainnya sih oke. aku bilang sama dia, bahwa aku sudah titip zakat fitrah dia ke ibu mertua di kampung yang lebih jelas penyalurannya.

"sok nih aku kasih uang, kasiin ke sana tapi bukan sbg fitrah, biar masih dianggap jadi murid ngajinya aja," ujarku pedes.

entah sejak kapan di sekitarku ada tradisi ngasih fitrah ke guru ngaji yang kaya dan gak jelas disalurin kemana duitnya. yang jelas hampir semua ibu2 pengajian melakukannya.
saat dihadapkan pada realitas antara tradisi dan memurnikan ibadah menghitungnya antara wajib, sunnah, makruh, subhat dan riya', banyak orang masih memurnikan niatnya untuk lebih terlihat manis dan baik di mata manusia, bukan tuhannya, ternyata.

kakakku marah besar saat itu dan aku marah juga agak kaget melihat perubahan cara berpikirnya saat menghadapi masalah sama terjadi pada ibuku.

untung nenek (angkat anak2) datang malam itu dan mengatakan padaku bahwa tadi sebelum brangkat tarawih hendak mengingatkan kakakku soal orang-orang yang memang wajib secara qur'an menerimanya.

persoalan pun tuntas. walaupun nenek agak ghedeg juga pas mengingatkan ibu2 soal itu dan dijawab,"ya biar aja kalau emang dia makan kan, dia yang nanggung dosanya."

ibu-ibu itu lupa kalo kita diberi akal sama alloh untuk menyelediki dan menghisab diri sendiri harta kita dipakai apa dan untuk siapa?

Selasa, 15 September 2009

mencoba ritme hidup baru

tahun ini adalah tahun bersejarah banget karena aku memutuskan untuk memilih lebih banyak di rumah menjalankan fungsi sebagai istri dan ibu daripada bekerja di luar.

bulan Juli-Agustus 2009 jadi saat penting memutar haluan hidup saat Alloh berikan fenomena yang mengantarku berpikir,"hidup itu sebenernya buat apa?"

sebelum itu aku bener2 lagi mematok jalur hidup meneruskan karier di jalan lain dan berpikir ndaftar belajar lagi. tapi ternyata pekan kedua Juli, positif rahimku terisi kembali oleh janin yang insyaalloh jadi anak ketiga.

trus tiba2 pula, suami yang baru dua taun barengan terus di bandung, musti pindah lagi ke jakarta krn sekolahnya selesai dan bosnya menghendaki dia segera menata bisnis di satu divisi dengan lebih serius.

aku nggak menyesal dengan pilihan ini, pada akhirnya. karena sejatinya seorang ibu selalu berada di dekat anak2nya dong.

aku nggak tau jalan hidup mana yang terbaik alloh pilihkan buatku, tapi aku bakal meminta yang terbaik buat keluargaku. termasuk jika opsi-nya musti pindah ikut suami ke jakarta pun, walo seumur2 aku blm pernah ninggalin bandung sbg tempat lahirku sampai beranak pinak.

ini intro baru di blogs baru yang aku buat.