saat ibuku masih hidup, kerap aku dan kakakku agak sewot kalo lebaran tiba, ibuku memberi zakat fitrah buat guru ngajinya yang sudah makmur punya rumah besar dan mobil pula.
karena ngerasa dia nggak pantes jadi penerima zakat fitrah, kecuali disalurkan pada para penerima yang sesuai dengan ata qur'an.
belakangan kakakku yang udah hampir tujuh taun ikut bersamaku keranjingan mengaji dengan ibu-ibu sekitar rumah. di luar banyak ritual dan baju seragam (emang ngaji sama dengan tentara?), aku masih tolerir sbg satu kegiatan positif, walo pasti pas pulang bawa cerita ini itu tentang ibu ani dan anu ato gosip terkini seputar tetangga yang kadang bikin telinga bebal mendengarnya.
lebaran empat hari ke depan dan semua sibuk menunaikan ibadah terakhir di bulan puasa.
aku sibuk mempersiapkan sembako dan berbagai kue-kue seperti biasa kulakukan dari tahun ke tahun buat tetangga dan sanak saudara yang kebetulan secara ekonomi masih belum beruntung pada lebaran kali ini. not so big and much, but hope it brings a little happiness for them lah niatnya mah.....
dan tadi malem, tiba2 kakakku minta duit 20rb katanya mo bayar zakat fitrah ke guru ngajinya yg baru dikenalnya sekitar enam bulan terakhir. yah, aku secaranya kecapean baru ngegang dan keujanan abis beli ini itu di indogrosir dengan perut membucit jadi agak napsong menanggapinya.
secaranya aku pun tau itu guru ngaji anaknya dah pada jadi n rumahnya tingkat di atas bukit dengan baju yang gonta ganti saban ngaji dan perhiasan. aku bilang kalo mo ngasih kue, ato sekedar penguat buat kegiatan pengajian oke, tapi buat zakat fitrah, dia sama skali gak layak. kecuali guru ngaji itu emang miskin ato banyak utang, kita sangat wajib menegakan dan menguatkan aqidahnya dengan fitrah dan zakat lainnya sih oke. aku bilang sama dia, bahwa aku sudah titip zakat fitrah dia ke ibu mertua di kampung yang lebih jelas penyalurannya.
"sok nih aku kasih uang, kasiin ke sana tapi bukan sbg fitrah, biar masih dianggap jadi murid ngajinya aja," ujarku pedes.
entah sejak kapan di sekitarku ada tradisi ngasih fitrah ke guru ngaji yang kaya dan gak jelas disalurin kemana duitnya. yang jelas hampir semua ibu2 pengajian melakukannya.
saat dihadapkan pada realitas antara tradisi dan memurnikan ibadah menghitungnya antara wajib, sunnah, makruh, subhat dan riya', banyak orang masih memurnikan niatnya untuk lebih terlihat manis dan baik di mata manusia, bukan tuhannya, ternyata.
kakakku marah besar saat itu dan aku marah juga agak kaget melihat perubahan cara berpikirnya saat menghadapi masalah sama terjadi pada ibuku.
untung nenek (angkat anak2) datang malam itu dan mengatakan padaku bahwa tadi sebelum brangkat tarawih hendak mengingatkan kakakku soal orang-orang yang memang wajib secara qur'an menerimanya.
persoalan pun tuntas. walaupun nenek agak ghedeg juga pas mengingatkan ibu2 soal itu dan dijawab,"ya biar aja kalau emang dia makan kan, dia yang nanggung dosanya."
ibu-ibu itu lupa kalo kita diberi akal sama alloh untuk menyelediki dan menghisab diri sendiri harta kita dipakai apa dan untuk siapa?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar