Selasa, 23 Agustus 2011

perhiasan perempuan

ngomongin perhiasan emang selalu identik dengan kesukaan perempuan. sok aja kan, suka geli gitu liat laki-laki pake gelang, cincin gede ato kalung emas (belom lagi pas nyengir giginya emas juga hahaa)

oneday, sekretaris memperlihatkan foto teman2 mainnya diantaranya ibu2 dengan wajah cantik dan berat banget tema perhiasannya. biar keliatan kalungnya, ibu2 berkerudung sengaja beli kalung panjaaaang dijuntaikan sampe ke bawah kerudung. kalo giwangnya nggak keliatan, ya dicobain biar keliatan dengan menempelkan kerudung hingga ke telinga, kemudian memberikan sedikit celah agar ujung kuping bagian tindiknya nongol, maka terlihatlah perhiasannya.

nah sekretaris cerita lagi. ada temennya cowok merasa selalu harus memakmurkan istrinya dengan berbagai perhiasan mencolok. dia akan merasa bangga, puas dan bergengsi jika orang2 melihat istrinya seperti toko emas berjalan yang merepresentasikan daya beli nya sebagai lelaki. its all about pride.

pas waktu mertua masih jadi camer, dia nanya sama hubby tentang perhiasan yang aku sukai. hubby bilang kalo aku gak pernah keliatan pake (ya karena gak punya kalee>?:P) jadi dia pikir sembarang aja mau ngasih emas bentuk gimana.

so waktu hantaran diberikan (exluded mas kawin, krn mas kawin aku mau sesuai kemampuan hubby membeliku, so he gave me 1 million in cash :D), agak kaget karena berjuntaian itu gelang,kalung,giwang,cincin beratnya lebih dari 30 gram?

sebagai orang gak pernah punya koleksi (kecuali cincin n giwang yang juga jarang dipake) aku terkaget2. merasa gak memprediksi mertua perempuan akan 'menghargai'ku sebanyak itu. ada beberapa kali perhiasan dipake, sebelum akhirnya memutuskan meleburkannya dalam bentuk batangan untuk menghindari kebingungan memakai dan sifat lupa dimana menyimpannya.

sampai akhirnya anak2 perempuanku mulai suka pakai cincin dan bertanya kenapa mereka tidak ditindik sejak bayi dan dihiasi telinganya dengan anting2 seperti anak2 perempuan lain. untuk cincin, aku belikan mereka dari tabungan yang mereka simpan (dari sisa uang jajan dan pemberian). cincin itu ternyata gak awet juga mereka pakai, cepat bosan dan akhirnya menjadi penghuni kotak perhiasan kayu pemberian temanku di bangkok yang mereka simpan di lemari.

tak menindik telinga tiga anak perempuan jadi pertanyaan banyak orang buat kami, di saat trend 'body piercing' makin mendunia. islam tidak mengenal budaya tindik. yang digariskan adalah membedakan perempuan dan lelaki dari pakaian yang lebih melindungi aurat sesuai dengan jenis kelamin masing-masing (batasan auratnya jelas).

jelasnya lagi, kami gak mau menyakiti bayi kami sejak dini hingga menimbulkan trauma mendalam tentang kesakitan yang dirasakannya. selain banyak googling dan cari referensi tentang urgensi tindik. seperti juga budaya sunat perempuan yang ternyata cuma mitos yang menurut refrensi diciptakan oleh raja-raja untuk menekan libido seksual perempuan. sama halnya dengan budaya tindik.

balik ke soal tindik yang memang gak diatur dalam islam, kami memilih menyerahkan sepenuhnya keputusan atas itu kepada anak2 kelak kalau sudah besar. karena tubuh mereka adalah hak mereka. sepanjang tidak melanggar aturan agama, go ahead gals!

terlebih kami ingin mereka tidak menonjolkan perhiasan hanya berdasar ingin dilihat lebih status sosialnya di mata manusia. tapi lebih mementingkan sebaik2nya perhiasan perempuan di mata tuhannya.

perjalanan seperti ini terlihat remeh dan tidak umum. hanya ingat satu firman tuhan bahwa beragama yang benar itu nantinya akan seperti barang aneh. ini jalan sunyi dan butuh kekuatan hati dan pikiran agar tidak terjebak hanya mementingkan pendapat manusia dan menafikan pendapat tuhan. semoga kalian mengerti, anak2ku :)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar