mendapati banyak keluarga muda menjadi tetangga kami di kompleks pemukiman kecil di tengah penduduk Betawi pinggiran menjadi hal baru. saat tinggal di tanah kelahiran, kami bertetangga dengan banyak penduduk senior sehingga kami belajar menjadi orang muda yang berteman dengan orang tua.
tanpa persiapan apapun, kini kami harus belajar ilmu baru berteman dengan orang-orang muda yang cukup emosional, sulit menentukan nilai hidup sebenar, dengan persaingan materi antar rumah tangga yang mencolok. kebanyakan mereka memiliki kendaraan sebelum memutuskan membeli rumah. gaya hidup mereka sangat berbeda dengan kami.
kami berdua sangat senang berada di rumah. bercengkrama dengan anak-anak. main masak-masakan, makan bersama di teras belakang atau bermain basket bersama. kami merasa di sini menjadi kelaurga utuh. sehingga akhir pekan benar-benar dijadikan momen menuntaskan kegelisahan sang ayah yang kehilangan banyak waktu bersama di hari kerja.
tetangga depan rumah, kadang meninggalkan empat anaknya (mungkin sudah terbiasa), sementara kedua orang tuanya pergi. tak terlalu memperhatikan apakah anak-anak sudah sarapan, makan siang, makan malam...semua urusan adalah urusan pembantu.
tapi aslinya kami merasa perlu menularkan semangat sulung tetangga depan yang hebat untuk ukuran anak kelas 6 SD menjaga adik-adiknya. dia selalu mengajak serta tiga adiknya kemanapun dia pergi. itu contoh yang bagus buat anak2 kami.
aku tak bisa memberikan apresiasi berlebih. dari keluarga depan rumah kami belajar bagaimana membiasakan anak mandiri, ternyata. aku sangat senang melihat mereka melahap sekedar penganan tahu goreng krispi, bakwan, sosis gulung mie, ato apa saja yang aku biasa buat utk kudapan anak-anak. mungkin apresiasi yang sangat minimal. ato hanya sekedar menceritakan ihwal suatu kejadian di sekitar, berita-berita televisi yang sangat sering ditanyakan anak sulung mereka.
sementara ada spasangan memiliki lima anak yang anak sulungnya baru kelas 3 SD. terbayang sulitnya mereka mengasuh anak-anak --sementara ibu bapak bekerja--dengan pertolongan hanya satu asisten rumah tangga yg pulang hari. ruarrr biasa. sama denganku, mereka meliburkan asisten rumah tangga mereka pada akhir pekan.
nah, lain soal dengan tiga keluarga yang masing-masing punya anak satu. aneh. ibu mereka tinggal di rumah punya asisten rumah tangga full-time untuk mengasuh hingga membereskan semua pekerjaan rumah. tapi ternyata asisten-asisten mereka berganti-ganti.
so much fun to learn about neighbourhood around....our treatment of other people make the difference on how people treat us....enjoy the life, kiddos...growing up with every single of each others faults and strengths to make the best of u :*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar