Selasa, 18 Mei 2010

maju mundur maju mundur

rencana resign dibuat sudah krn diberi kesempatan menyelesaikan kerja ini dengan satu masalah yang dibuat partner kerja. ya sudah lah, poin penting ada jalan untuk mengajukan surat resign secara resmi dan memberikan estafet posisi ini pada yang muda.

kukira semudah itu. namun menejer sdm membalas surat dengan berkata tetap ingin aku gabung krn kualitas (ehm ehm bener2 susyah deh, ini kedua kali surat mundur diajukan padanya)

tiga hari setelahnya, bosku langsung yang lebih seperti kakak perempuan, menelponku. dia ngancem mo nelp hubby beneran kalo memang hubby mendukung keputusanku utk lebih ngurusin anak. (bos sebelumnya ngomong langsung sama hubby saat ketemu di salah satu embassy soal ketidaksetujuan aku resign)
'lo tau kan, gue udah kayak kakak ato emak lo sendiri. it must be a great lost for me!'
kalo urusannya anak, kata dia, aku bisa tetap membantu kantor dengan cara lain, tapi tidak dengan resign. dia bahkan menyuruhku ambil teman kerja utk meringankan pengerjaan isu-isu harian.

aku pertimbangkan betul. mulai slow down dengan tugas2 harian. aku berharap kantor muak padaku karena aku lamban, ternyata tak sedemikian responnya. salah besar.

aku tetap mencari cara untuk resign dengan bebas gembira. walo kulihat, beban kerja mulai padat setelah tiga pekan masuk kerja. aku memohon petunjuk-Nya atas persoalan ini.

aku ngerasa belum menemukan masa depan apapun, kecuali anak-anakku. mereka adalah masa depanku yang musti kupelihara dengan baik hingga lepas dari asuhan dan mandiri menjadi diri sendiri.

walo godaan kerja sampingan yang makin kenceng, aku merem melek ngerem dari godaan itu. berusaha fokus dan fokus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar