analisa atas kekalahan bang kumis dalam pertarungan memperebutkan ketua partai biru di media massa, milist-milist sampe status akun twitter n fb rame banget. kekalahan yang seperti menitikan 'noda hitam' tersendiri buat bang kumis.
semua orang mencerca tapi mungkin tidak dilakukan istrinya. sesampai burung bercerita, kalo istrinya kerap menangis karena 'kehilangan' suaminya, sejak jadi corong raja eksekutif negeri ini. dia merasa terabaikan karena si kumis lebih takut dan patuh pada rajanya ketimbang istri dan anak-anaknya di rumah.
tiga hari bergelut dalam kompetisi memperebutkan ketua partai biru, aku menyadari sebagai istri, bukan hiruk pikuk dan ramainya kampanye menjagokan si kumis yang benar-benar diinginkan. hanya pribadinya yang dulu, apa adanya, saat dia memutuskan 'berjalan' bersama kita.
kehangatan, kemesraan, kayaknya cuma itu yang penting dalam hidup berkeluarga. bukan duit dan tenar berlebih. seseorang bukanlah jadi apa-apa kalau dia nggak berarti di mata keluarganya.
diam-diam aku menikmati detik detik kekalahan si kumis dari bangku sudut podium kiri panggung, tempatku mangkal tiga hari selama kongres partai biru.
aku sangat yakin, doa istrinya lebih didengar tuhan yang mungkin tak ingin si kumis makin lupa daratan dan makna hidup sesungguhnya. aku percaya tuhan membuatnya 'terpuruk' karena sangat sayang sama si kumis dan keluarganya. bukan karena murka. walo banyak orang bilang ini buah 'kesombongan'nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar