Rabu, 05 Mei 2010

you get what u've paid

aslinya lagi ngerasa bingung sama dua orang sombong yang lagi kedapetan masalah, tapi ya tetep merasa perlu sombong di depan orang lain.

tiga bulan lalu, aku berantem sama satu sombong krn beda persepsi ttg hubungan manusia. merasa tak suka dengan sikapnya yang oportunis, aku mengingatkan dengan sungguh2. sblm dia terbang ke belahan negara lain, dengan 'jalan' yang kubukakan menuju negara itu. dia sama sekali gak pamit krn masih marah diingatkan. no regrets. toh, kita gak berharap dapat medali atau popularitas saat musti membantu orang.

dua hari sblm dia berangkat, ibunya dtg menemuiku mengantar ipar si sombong yang hendak kerja jarak jauh utk proyek-ku. alhamdulillah masih bisa menekan emosi dengan tidak menendang ipar si sombong dari pekerjaan ini. murni bersikap profesional, melakukan tes kerja, wawancara, dan dia memang lolos (walo timku awalnya mengeluhkan sikap 'rese' ipar si sombong)

hanya kalimat ibunya yang dapat mendorongku memaafkan perlakukan si sombong. begitu bertemu ibunya langsung mengatakan,"maafin dia yaa suka ngerepotin kamu aja. aku bingung udah gak bisa ngatasin dia. keras hati sekali. salah kata, malah dia ngerasa kita gak pinter, gak bisa ngikutin pikiran dia yang pinter."

heheee ya sudah lah. sakit hatiku berlalu begitu saja. meski benar2 sakit. mengingat hal hil selama ini kulakukan sbg teman yang ingin melihat temannya maju.

tak kuat menahannya, aku kirim imel pada teman jauhku --juga teman dekat si sombong-- di HK. kubilang, aku patah hati dan tak hendak lagi berteman terlalu baik, jadi teman2 biasa saja lah, biar sakitnya gak terlalu.

temanku itu bilang, percayalah ketika berbuat baik, baik juga akhirnya yang dituai. tuhan tak pernah tidur. si sombong benar2 keterlaluan.

kulupakan sudah tentang itu. sampai dua pekan lalu, berita itu datang seperti tamparan keras pada perasaanku sbg perempuan. om si sombong terkena musibah. hal memalukan yang menampar kejayaan nama keluarga mereka menguak ke permukaan dan sebentar lagi jadi pembicaraan kelas nasional. i dont kno' what 2 do.

aku kirim imel pada si sombong menerangkan duduk perkara, biar dia tidak shock saat balik ke ind. jawabannya kudapat malam tadi via sms, bahwa hal begitu sudah biasa (bernada im oke oke aja kok). aku tak hendak bersorak sorai. tapi begitulah, aku merasa si sombong tak merasa itu sebuah masalah besar. walaupun secara etis pasti memalukan buat trah keluarga mereka.

sampe tadi siang, anehnya dia berubah cepat, mengirimku imel dan isinya minta bantuan menerangkan kasus itu pada publik untuk mendudukan persoalan pada porsinya. yaaa saya mana bisa, kan dia hebat. silahkan selesaikan masalah ini. saya pikir harus membuat sebuah shock therapy pada orang yang merasa semua yang hebat ada padanya, dan dia bisa melakukan apa saja yang terbaik buat dunia on her own legs.

aku tak jawab imel itu hingga kini. menggantungkan, daripada makin emosi dibuatnya. cuma belajar, kalo emang sombong, mau dikate dikasi ujian, tetep aja dia ngerasa sombong untuk menantangnya. bukannya dia belajar lebih rendah hati memperbaiki.

sombong kedua, kuperingatkan tiga taun lalu saat memulai memiliki kantor cabangnya di kota kami. bahwa info manajemen pusat yang kebetulan bos keduaku tau, kantor cabang itu hanya diikat tiga taun oleh pembiayaan iklan. jika kontrak iklan kelar dalam tiga taun dan belum hasilkan profit, maka terancam dibekukan kembali.

tapi itulah, saat kubilang begitu, dia membantahnya dengan keras, dan ngerasa aku sok tau urusan rumah tangganya. padahal i just warned that she had to work harder to rise the incomes....

ya itulah, baru dua hari lalu kudengar semua fasilitas kantor ditarik ke pusat, sdm mulai ditarik juga, dan kantor dibiarkan berjalan seadanya, seperti ditinggalkan begitu saja oleh kemudinya di pusat. karena target incomes tak tercapai.

yaa aku mo bilang apa. ada kasian. aku banyak mengambil pelajaran dari dua sombong ttg keharusan rendah diri dan banyak mendengar pendapat orang, jangan mau bener sendiri, jangan mau super sendiri. karena kalo pas apes, banyak orang bukannya membantu, tapi malah mensukuri. astaghfirullah....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar