Jumat, 07 Mei 2010

after 35 years old

inget betul bos kedua selalu bilang, usia 35 taun biasanya menjadi usia sangat menentukan dalam hidup. karena dia merasa saat usia itulah dia memutuskan banting stir menggarap bisnis sesuai background pendidikannya, meninggalkan profesi yang dicintainya yang menurutnya tidak memberi lebih banyak kesejahteraan.

baru kerasa kata2 si bos dalam tiga pekan terakhir. kadang aku bertanya sama hubby sampe kapan kita mau jauhan terus? tentunya melihat posisi delapan bulan terakhir, perkembangan kariernya seperti meminimalisir kemungkinan membawanya kembali ke kota kami. aku pasrah soal itu. walo hubby memastikan just 2 years in jkt, after that he we'll build our dream to get back together.

karena dia merasa jkt gak enak buat tinggal selamanya. home sweet home tetaplah bandung adanya.

aku sendiri berusaha realistis mencari jalan keluar memaksimalkan diri mengurus anak dengan memutuskan mengakhiri karier 12 taunku di profesi ini. lebih memfokuskan dengan kerja lepas dan kerja rumahan seperti selama ini sudah kujajagi dan mulai dilakukan sejak setahun lebih. aku harus lebih adil membagi diri dan mengisi waktu bersama anak2 karena perhatian sulit terbagi. walo cinta berat dengan profesi, tapi aku harus menekan egoisme dan mengingatkan diri sendiri untuk lebih memenuhi hak anak2.

apalagi hubby sudah mulai ngomporin aku buat stay lebih banyak di rumah sama anak2. inget golden ages mereka dan banyak hal yang aku pasti rindukan selalu sepanjang hari jika harus berpisah dengan mereka. sungguh menyiksa meninggalkan mereka saat harus bekerja belakangan hari.

pekerjaan hubby yang awalnya sulit karena menata banyak hal baru untuk mendatangkan profit, sekarang terlihat bagus. bos2 pasang jempol dan melihat keuntungannya sangat prospektif sehingga hubby dapat ganjaran baik pula.

semua fine2 aja sampe sekitar tiga pekan lalu. saat hubby dikontak seorang mantan bosnya dan diajak gabung merintis cabang bisnis di kota kami. mantan bos itu memegang hubby untuk merintis, mengembangkan dan menguntungkan usaha itu dengan share saham dan profit. modal murni dari mereka dan hubby tinggal mereka-reka memajukannya.

gaji dan fasilitas ditawarkan lebih baik dari tempatnya bekerja sekarang yang sudah lebih dari 10 tahun digelutinya dengan berbagai susah dan senang. walo kadang aku merasa penghargaan kantornya terhadapnya sangat minim dibanding usahanya. toh sekarang hubby sedang juga dimanjakan kantornya dengan kemajuan yang bisa dia berikan pada unit yang dipercayakan padanya.

namun hubby sepertinya tertarik tawaran sang mantan bos itu karena pecinta tantangan sekaligus lebih dekat dengan keluarga. selain itu, di usaha baru hubby punya share saham jadi dia dianggap owner juga.

dua kali sudah mereka bertemu merumuskan calon bisnis baru itu dan sepertinya hubby makin tertarik. walo dia agak bimbang meninggalkan pekerjaannya sekarang yang dalam delapan bulan terakhir sudah membalikan gajinya menjadi dua kali lipat.

aku cuma minta hubby istikharah untuk mendapat yang terbaik. jika memang lebih kuat memilih pindah, berharap itu yang terbaik buat kami semua. cuma agak mempertimbangkan omongan si bos, di usia hubby hendak 36 taon, momen ini sangat menentukan. apakah akan tetap di jalur terus menjadi buruh buat orang lain sampai pensiun, atau melesat dengan pilihan yang 'gambling' juga adanya heheee

Tidak ada komentar:

Posting Komentar