waktu tau kalo hamil si 'bebe' dalam perut ini pertengahan juli, aku agak terpukul. betapa tidak saudara-saudara, saat itu aku sedang mendaftar belajar lagi di almamater lama karena berniat memanfaatkan tawaran mengajar di jurusanku dulu.
tapi aku merasa saat ini keputusan antara sekolah lagi, tetap bekerja dengan mengabaikan anak-anak adalah suatu hal yang gak mungkin. meski agak sulit toh aku harus menerima realitas jalan hidup yang aku pilih. apalagi hubby dipindah lagi ke ibukota, gak bisa bantu ngasuh dari senen-jumat.
ya saat itu aku merasakan satu perasaan amat rumit yang aku alami sepanjang berumahtangga nyaris 8 taon.
hubby sih benar2 membebaskan jalan pilihanku. tapi aku juga musti tau diri dengan jalan rumah tangga yang sudah dari awal jadi pilihanku untuk menjadi menjalankan fungsi perempuan seutuhnya yang sudah dipilihkan tuhan.
aku pun mengubur cita-cita yang satu, berkonsentrasi kembali pada khitah yang sudah dipilih lama. kadang banyak godaan membuat hidup tidak fokus, tapi benar-benar aku minta ditunjukan yang terbaik buatku dan tentu keluargaku tersayang.
satu saat dalam masa transisi itu, aku ketemu dengan bu sirikit, ahli mass media dari suroboyo yang terkenal itu.
saat itu aku diajak bos mendapat pencerahan ilmu soal analisis media untuk keperluan bisnis yang sedang dijalankan. bos mendatangkannya dari surabaya untuk berbincang sekitar tiga jam.
setelah ngalor ngidul ngobrol dan sempat memboncengkan beliau beli oleh2 ke kartikasari dago, di perjalanan aku baru kepikiran nanya saat usia berapa taun beliau dapat gelar S2-nya dari London? entengnya dia jawab 43 taon.
hah? setua itu ambil S2. ya apa urusannya, dulu anak-anaknya juga masih pada sekolah dan masih butuh perhatian, jadi dia kerja sambil ngopenin anak. begitu anak-anak besar, barulah kepikiran meningkatkan status akademik.
secaranya dia praktisi media juga, aku pikir orang akan lebih melihat status akademiknya ketimbang pengalaman praktisnya seperti yang banyak orang pikirkan soal memajukan karier.
eh ternyata aku salah. bu sirikit kumpulkan banyak dulu pengalaman, pengajaran dan nilai-nilai kepraktisan sampe dia akhirnya dapat tawaran rewards S2-nya.
aku pikir setiap orang punya kebebasan menentukan prioritas hidupnya dan jangan menyerah untuk berbuat dulu baru mengambil rewards-nya kemudian.
jadi apapun aku sekarang karena mengedepankan agenda 'keluarga' (ato dalam status apapun yang nggak 'dilirik' orang), aku menjalaninya dengan senang. aku akan punya tiga anak, melengkapi kelucuan dan kekocakan hidup yang aku miliki. sesuatu yang sangat mahal dan nggak semua ibu mendapatkan keistimewaan itu. aku harus tetap bersyukur masih diberi rewards lain untuk bisa tetap menulis dan bekerja untuk orang lain mengasah semua kapasitas otak.
walo tanpa tambahan status akademik, kayaknya biasa-biasa aja akhirnya. hasil analisis media-ku masih dipake perusahaan amerika, hasil tulisanku juga masih dibaca orang.
aslinya pada bulan kelima si 'bebe' ada di perut, aku sama sekali udah lupa sama mimpi
menggebu mengejar kenaikan status akademik yang entah kapan lagi bakal kudapat mimpi itu :P
aku mengamini betul apa kata hubby kalo aku selalu bilang aku sirik dia banyak kesempatan pergi ke luar negeri. "ini kan cuma soal panggilan, kalo kata alloh yang terbaik kita harus pergi ya pasti pergi. tapi kalo kata alloh gak baik, sampe usaha gimanapun kayaknya pasti nggak pergi."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar