Rabu, 07 Oktober 2009

another art of pregnancy

pertengahan juli kemaren aku mengalami degradasi fisik yang akhirnya ngaruh juga sama kondisi psykisku. muntah-muntah over banget, cepat lelah dan nggak puguh jiwa gitu.

aku nyoba periksa ke dokter langganan krn udah nggak kuat banget dengan fisik yang lemes terus sementara kerjaan banyak. aku kayak 'ngos-ngosan' lari ngejar kereta :P

dokter yang emang pengalaman meriksa perut, menekan2 bagian yang perlu ditekan dan nyeplos nanya," udah haid kali, test pack aja deh. smntara aku kasih obat maag ringan."

dheggg...antara siap dan nggak siap menghadapi probabilitas, aku juga penasaran. jadilah pulang dari dokter aku beli obat sekalian 'sensitif'. aku gak ambil pusing, segera menuju toilet warnet langganan, trus melakukan tes dengan cara rada joroks.

aku tampung air kencing di tangan kiri dan memasukan itu batang testpack ke tangan kiri yang berisi piiip, merembetlah itu cairan ke level dua, tapi asli warnanya gak terlalu terang.

hubby sebelnya nelpon usai itu dan menanyakan,"gmn jadi kata dokter?"
aku jawab,"disuruh testpack!"
hubby interogasi,"hasilnya?"
jawablagi,"dua strip ya, tapi yang atas agak burem, gak merah nyata."
hubby,"alhamdulillah, positif berarti."
jawabketus,"yeeey jangan kesenengan dulu, orang blm pasti!"

after that, secaranya ada ibu dan adik mertua di rmh, hubby rada melebih2kan keadaan baruku. padahal aslinya aku blm percaya dan serasa hendak berteriak mengurai nasib.

saat itu aku sedang mewujudkan cita2 hidup yang lain, berusaha ndaftar sekolah lagi, rencana mau mulai magang ngajar atas ajakan temanku, nerima order lain sbg tambahan buat nombok bayar sekolah. dan berniat meretas nasib baru buka usaha pffff

saat itu sepertinya dunia jadi agak serasa gak berpihak pada si 'api'.

di rumahpun, seperti terkondisikan, mertua sering banget bilang,"apapun jadinya, yang ikhlas ya..."

aaarrrrggggghhhhh

(di saat sama, aku tuh lagi punya negative thinking sama hubby yang lagi digosipin orang sekantornya, katanya punya affair sama resepsionis. gosip itu bilang, katanya hubby pegang2 tangan si respsionis manis itu. kepercayaanku pada hubby hendak berjalan ke titik minus saat itu)

ini adalah satu frasa hidup dimana aku bener2 merasakan limit fisik dan psykis pada waktu bersamaan. dan di saat itu, aku ngerasa bener2 blm siap hamil lagi :P

dan hubby memaksaku memastikan kehamilanku dengan nada senang dadadaaa dududududuu dan selalu senyum, dia sama sekali nggak tau gejolak hatiku yang membencinya setengah hati.

sampai akhirnya aku memastikan kehamilanku dengan seksama. menyiapkan cawan kering dan memeriksanya dengan hati-hati. dhiiing! tetep deh hasilnya dua strip dan aku keluar kamar mandi dengan lunglai.

aku jadi susah senyum, liat hubby muak muak muak berkali-kali....

sementara ekspresi hubby bener2 gembira, apalagi dia baru lulus ujian sekolah dan hendak diwisuda. double decker kesenangan lah buat dia, penyiksaan baru buat diriku :)

aslinya memandangi perubahan fisik, memikirkan gosip mentah yang diuar-uar sama orang yang emang gak suka sama hubby membuatku semakin kayak gak bergairah dan cepet marah.

sampe akhirnya aku nanya sendiri sama hubby soal gosip itu. hubby cuma berkata pendek,"knapa gak digosipin skalian aja, aku zina sama dia!! aku pegang tangannya kepaksa banget cuma sekali, waktu dikasi duit buat reparasi mobil, cewek itu nahan uangnya. padahal aku dah mau cepet2 ke kampus, jadi aku rebut duitnya dari tangan dia! tapi terserah kamu mo percaya siapa?"

ya aku jadi inget wajah perempuan itu. aku inget siapa yang ngegosipin. aku inget kesetiaan hubby selama ini yang kadang banyak aku ragukan. aku juga inget alloh.

sampe aku beri statement pada si pemberi kabar gosip,"sekuat-kuatnya aku mempertahankan pernikahan dengan mengikat suamiku agar tak sedikit pun lolos dari pengawasanku, jika alloh merasa dia bukan terbaik untuk dunia akhiratku, pasti aku pisah darinya. tapi selemah-lemahnya aku meloloskan pengawasanku, jika dia memang terbaik untukku dan akhiratku, insyaalloh, kami akan selalu disatukan."

hanya menyerahkan semua masalah pada the'invisible hand' lah aku akhirnya merasa plong melaluinya.

perjuangan tak sampai situ. aku merasa harus menyerahkan soal fisik pada keinginan jabang bayi. dua bulan aku ambil cuti dari kantor yang menolak permohonan resign-ku.

padahal dua hamil lalu, aku bisa menjalani semua proses dengan mudah dan enak. masih bisa bermotor ria dari awal hamil sampe cuti hamil, masih bisa bekerja sangat maksimal pada kehamilan kedua, tanpa diganggu mual-mual muntah berlebihan seperti ini.

setelah itu, masihlah dihadapkan pada soal lain, hubby dipindah lagi ke jkt stlh bos-nya tau dia udah lulus sekolah. waaaah, bener2 bulan-bulan ujian yang gak pernah kuduga sebelumnya. di tahun ini menjelang dan setelah ulang taun ke-35, aku diberi semua ajaran hidup yang benar-benar nyata di depan mata. what a wonderful gift ya alloh!

berkat dukungan dan kasih sayang hubby --yang sangat berlebihan dirasa-- aku merasakan limit fisik dan psykis yang diberikan penciptaku padaku saat ini justru sebuah pembelajaran kesabaran luar biasa. not as i think before, i do enjoy another 'art' of pregnancy now.............finally i'm feeling happy with this :)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar