bu rete, ibunya wendi tetangga tiga rumah di kananku, selalu marah-marah dan menyalahkan henpon sebagai penyebab anaknya malas sekolah. pas dibagi rapot akhir desember 2008, rapot wendi nyaris semua di bawah lima, dengan angka 'alpa' sebanyak 39 hari.
"gawena isuk peuting, siang sore, sms-an weh, tetelponan. dititah hese," ujar bu rete menggerutu.
aku tadinya sependapat dengan bu rete, ikut menyalahkan henpon yang harganya makin murah dengan banyak layanan bebas pulsa sesama operator. bikin generasi ini malas, berleha-leha, menangkap mimpi dan cita-cita dari talking-talking and sms di dunia virtual, tanpa usaha keras.--inget gmn ngumpulin duit dari gaji pas-pasan untuk dapet henpon pertama dulu--
tapi sepekan ini, pendapatku berubah. wendi akhirnya memilih putus sekolah di kelas 1 sma, dan merengek-rengek minta dikawinin sama pacarnya cewej umur 16-an yang sudah duluan DO dan kerja di pabrik.
hanya lima rumah dari rumah wendi. ada anak lelaki umur 16 tahun yang terpaksa dikawinin karena pacarnya terlanjur bunting tujuh bulan. berbeda dengan wendi yang memutuskan DO saat kawin sebatas proposal, cowok yang masih kelas 2 sma ini masih berusaha meneruskan sekolahnya dengan merengek-rengek minta pindan sekolah untuk menghilangkan jejak 'kemaluan'nya.
hampir sebulan lalu, kami kedatangan pertanyaan dari seorang bapak yang membonceng anak gadisnya mencari-cari rumah cepi, anak sma di ujungberung yang katanya rumahnya dekat rumah kami. si bapak membawa anak gadis yang perutnya terlihat membuncit. menanyakan ke sana ke mari dimana rumah si cepi, yang berubah alamat karena pemekaran kecamatan.
belakangan akhirnya aku tau, kalo si cepi ini adalah sahabat dari cowok kelas 2 sma yang terpaksa menikah tadi. dan wow, si cepi yang juga kelas 2 sma itu akhirnya terpaksa menikah dan memiliki bayi baru hanya selang satu bulan dari kelahiran anaknya cowok kelas dua sma tadi (yang sumpah, aku nggak tau namanya).
kakak iparku juga kini tengah kerepotan menampung pelarian saudaranya ke bandung, seorang anak lelaki 15 taun baru kelas 1 sma di solo sana. dia melarikan diri ke bandung karena dikejar-kejar tanggungjawab harus menikahi pacarnya yang sudah 19 taun, duduk di semester dua sebuah universitas dengan kasus sama, hamil.
tukang pijet favorit pun sekarang suka menolak order di malam hari. karena dia harus menunggui mantu barunya berusia 16 taun yang sudah hamil delapan bulan padahal baru dinikahkan dua bulan lalu.
kisahnya rumit, tapi underline-nya sama.
aku baru menyadari betul pernyataan kepala BKKBN, Sugiri Syarief, waktu ketemu akhir februari 2009 lalu, bahwa salah satu faktor kegagalan KB di indonesia adalah usia hamil pertama perempuan yang nggak bisa naik lebih dari 19 tahun di Indonesia. padahal secara statistik kita punya sekitar 40 juta gadis perempuan yang usianya di range 13 sampai 19 taun yang berpotensi hamil.
selama ini program KB banyak dikenalkan pada pasangan-pasangan usia subur. mungkin sudah waktunya berubah sasaran.
tapi boro-boro mau berubah sasaran ato memperbaiki kampanye kontrasepsi atau memperluas 'sex education', lha wong pemerintah lagi sibuk pemilu. anggaran BKKBN 2009 pun turun sekitar 0,05 persen dari Rp 1,2 trilyun menjadi 1,19 trilyun. dimana hampir setengahnya sekitar Rp 450 miliar dipakai untuk membeli kontrasepsi gratis untuk keluarga miskin. selebihnya, kata Sugiri,"kami sangat berharap peran swasta untuk memajukan program KB."
nah, kontrasepsi ato 'sex education' untuk anak muda? ya, pikirin nanti aja kali, kalo udah bener-bener pulau jawa tenggelam dan kita ramai-ramai transmigrasi ke kalimantan ato papua, karena udah nggak mungkin jadi TKI yang banyak dipulangin terimbas krisis global.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar