siang tadi nyaris terhenyak saat istri teman baikku menyapaku di pesbuk. entah untuk kesekian kalinya, aku tak pernah menyangka derajat kepintaran ternyata nggak selalu berbanding lurus menopang derajat kasih sayang.
memutuskan menikah muda dan bercita2 terus bersama membangun sebuah hubungan berkualitas secara kognisi dan perasaan dalam rumah tangga dilakukan temanku sekitar enam tahun lalu. saat istrinya hendak mengambil master di negeri tetangga.
kemudian mereka terpisah dua tahun yang membuat jeda antara mereka makin kentara. masing2 kesepian dengan dunia mereka sendiri. dunia yang berbeda dijalani membuat kerenggangan hubungan, walaupun temanku si lelaki berusaha akhirnya 'mendekatkan' diri dengan mendapatkan beasiswa 'sandwich program' di negeri yang sama.
di tengah jeda, nama-nama perempuan pencinta dan pengagum lelaki itu kemudian digosok seorang teman istrinya menjadi sebuah cerita tentang perselingkuhan.
aku merasa intervensi gosip itu berlebihan. aku kenal betul temanku. saat jauh dari istrinya, dia menceritakan dengan gamblang bagaimana gosip terbentuk. yang sialnya, menurut cerita temanku yang aku percaya betul sudah jujur padaku, diperkuat dengan tulisan di blogs perempuan pengagumnya itu. belum lagi kisah pengejaran seorang penulis asing di bandara negeri tetangga terhadap temanku yang memang secara fisik dan otak cukup bisa menyihir kaum perempuan kali.....
istrinya kemudian menaruh mosi tidak percaya padanya. meskipun, berkali terus terang temanku bilang padaku, betapa dia selalu kangen, kangennnn banget sama istrinya yang dipacarinya lama juga. dengan 'kegilaan' nyaris sama, secara kasat mata, mereka pasangan serasi. secara kognisi dan intuisi heee
teman lelakiku selalu berkata betapa tak ada perempuan yang bisa membuatnya tertawa terbahak2 karena kelucuan cerdas yang dibuat istrinya. seperti pelm 'no one but u'.
segumpal cerita cinta itu akhirnya tak bermakna banyak. kalimat2 cinta pun terbang entah kemana karena termakan gosip yang dibuat sangat logis realistis. seolah-olah nyata.
itu masalah awal yang dihadapi.
saat 'tensi' agak turun, aku berbarengan istrinya, usai berbincang dengan seorang teman peneliti dari kanada di sebuah kafe. aku berusaha sekali berbincang mengingatkan soal konsekuensi sebuah 'pilihan'. bahwa saat kita memilih mau nggak mau semua keburukan dan kebaikan yang ada padanya adalah milik kita juga. (frasa ini menunjukan sekali semangatku untuk mendorong mereka buat terus bersama :P)
dalam pada itu dibahas, ketika kita menjatuhkan pilihan pada seorang lelaki 'idealis' maka konsekuensi terbesar kita tak bisa mendapatkan materi lebih yang 'diada-adakan' di luar kemampuan kerja idealis yang dia miliki. kalau kita mau lebih, dibutuhkan 'kreativitas' lebih seorang perempuan untuk 'menopang'nya. tapi musti diingat, hidup bukan cuma butuh uang. tapi nyaman. nggak semua nyaman bisa dibeli dengan uang.
saat itu, aku kira kami dalam kesepadanan sebuah kesepahaman tentang realitas lelaki yang kami nikahi yang kemungkinan besar punya irisan besar dalam soal 'idealisme'.
aku pelajari pribadi teman lelakiku dengan my sweety hubby bertahun-tahun sejak mengenal dua sosok itu dalam hidupku. bukan untuk membandingkan, karena pasti aku berpendapat hubby lebih baik dari dia. selalu.
aku sampaikan pendapatku pada perempuan itu tentang kecenderungan lelaki seperti ini. disuka banyak perempuan, dikagumi banyak pria. kita akan merasa nggak ada 'apa-apa'nya melihat pembanding para penyuka yang kadang 'level' fisik dan materinya lebih baik dari kita. namanya saja pasar bebas, siapa pun boleh suka sama makhluk ciptaan, tapi urusan cinta kayaknya terbatas diberikan pada siapa.
tapi itulah, diskusi panjang saat itu ternyata nggak 'nyantol' juga. kekhawatiran 'tidak' menjadi apa-apa ternyata lebih besar dimiliki perempuan temanku itu.
sang lelaki merasa, hidupnya sudah dipatok untuk ikut perempuan itu dengan cita-cita besarnya untuk menjadi 'kaya' dan kecukupan, atau meneruskan hidup yang apa adanya di profesi yang tak menjanjikan kekayaan tapi 'pengayaan'.
deadlock sudah.
persepsi soal materi akhirnya jadi ujung yang memisahkan keduanya membentuk kutub berbeda tentang kenyamanan hidup. si perempuan merasa harus menambah materi karena nasibnya yang rentan setelah cerita tentang 'perempuan-perempuan lain' itu hadir. sehingga dia merasa perlu membuat banyak 'buffer zone' mempersiapkan kemungkinan terburuk.
saat usulan kompromi kuberikan pada perempuan itu. bahwa yang terpenting sekarang memastikan cinta masih ada menyelamatkan pernikahan yang sudah makan waktu lama, usia pun sudah mulai kepala 3. so, salah seorang harus mengalahkan ego'nya untuk bisa membangun sesuatu bersama dengan kondisi yang pasti akan jadi tak adil bagi salah satunya.
namun, tadi saat chatting, sang perempuan berterus terang dia tak mungkin mengalah, apalagi taun depan sudah dapat beasiswa riset setaun di negeri tetangga. dan sang lelaki sudah memutuskan tak ikut untuk menetapi profesinya yang idealis.
aku tak hendak jadi wasit ato 'skoci hidup' bagi lautan pernikahan mereka yang sedang dilanda badai besar.
aku hanya melihat andai semuanya bisa meredam ego masing2 dan meyakinkan diri bisa menerima masing2 kondisi pasangannya, tanpa ada pretensi atau menganggap diri lain sebagai 'musuh dalam selimut', mungkin ini tak terjadi.
ada juntaian banyak teori tentang gender yang merasa semua perempuan harus sama dipentingkan dengan lelaki. tapi kadang aku berpikir, teori-teori yang terlalu panjang dibicarakan, akhirnya nggak berarti apa2, krn realitas yang dihadapi perempuan selalu berbeda-beda.
kita tak harus malu menyandang sebuah predikat sebagai pekerja domestik, kalo kita rela menerimanya sebagai satu bentuk pengabdian hidup yang bukan hanya tertuju pada satu titik, pengabdi suami. bagiku pribadi, its better to be 'the one who stand behind the screen'. toh, kesuksesan suami, kesuksesan kita juga. sebaliknya sukses istri, sukses suami juga sebagai motivator.
hubby selalu berkata, itulah pentingnya agama, untuk menegaskan tujuan hidup agar semua yang kita lakukan bukan hanya berpijak pada logika yang terbatas dan membatasi ruang gerak yang banyak merugikan. karena kita akan terus dan terus mencari dasar logikanya, sampai merunut logika surga ada dimana? nggak ada habisnya dan melelahkan. bisa jadi saat kita menemukan, kita sudah kehilangan banyak waktu untuk 'berbuat'.
thanks to hubby untuk selalu mengingatkan agar tak ingkar dengan rezeki dari suami. krn banyak perempuan masuk neraka krn tak mensyukurinya.
tapi aku tak mengikuti saran hubby untuk mengajak perempuan itu mengingat nikah adalah ibadah. karena akan percuma, sudah beda jalan logika yang diambil sejak awal.
perempuan itu mengatakan bahwa mereka sudah pergi ke konsultan pernikahan dan menemukan mereka memang sudah di sisi yang berbeda. sekarang yang tinggal dipikirkan bagaimana mengakhiri hubungan dengan baik dan mengingatkan memori bahwa mereka pernah saling mencintai.
perih sungguh aku mendengar penjelasannya. tanpa kuminta dia menjelaskannya panjang lebar, mungkin krn sadar kedekatanku dengan suaminya.
sementara jauh2 hari, teman lelakiku sudah menjelaskan 'posisi' sebenarnya padaku yang berharap lebih pada mimpi punya rumah bersama di sebuah bukit, bisa mengumpulkan uang untuk membeli rumah idaman mereka dari lomba menulis, bahkan membeli mobil.
rumah dan mobil mimpi itu tak terbeli akhirnya dengan keterbatasan kemampuan yang dimiliki. hingga dia harus kehilangan mimpi 'cinta'nya.
aku tak hendak berkabung kali ini. karena bisa jadi setelah pisah, mereka menemukan banyak hal lebih membahagiakan, atau bisa jadi tak menemukan banyak kebahagiaan saat harus bersama dengan orang yang nggak bisa menerima betul siapa mereka sehingga mereka nggak bisa nyaman jadi diri sendiri. sehingga akhirnya alkisah berakhir masing2 merasa harus saling menemukan kembali pada fase perjalanan hidup berikutnya. (ngarep abisss :P)
seperti baju...bukan cuma bentuk, merk atau warnanya yang akan memutuskan kita memakainya atau tidak. unsur dominan pasti rasa nyaman. itulah unsur terpenting dari sebuah hubungan, kukira :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar