Selasa, 24 November 2009

an old lady's story

one fine day, i recognized that old lady as my senior staff in my old office in a local radio station at my hometown....

dia ada di bagian keuangan rumah tangga. orangnya gaul banget dan cukup terkenal di zamannya dengan banyak penggemar dan sangat pandai bergaul di kalangan 'elit' kota kelahiranku.

that's why penampilannya nggak murahan dongs. kebanyakan teman perempuan mengonsultasikan pemilihan pakaian, tas, sampe sepatu. orang mo kawinan juga minta input dari dia supaya kelihatan lebih 'berkelas'. sementara aku? oh oh no money to reach. sbg anak kos bertanggungan keluarga tentunya gaya mereka tak bisa aku adopsi secara bebas merdeka.

kadang trend yang ditularkan ibu ini di kantor membuat satu 'jeda' tersendiri karena perbedaaan kelas. tapi sudahlah, itu bagian paling nggak enak kalo dibahas karena ya karena kita musti sadar diri sama keadaan.

sebagai teman baik para satpam dan OB di kantor tua itu, aku pernah complain dengan perlakuan ibu tenar itu pada salah seorang OB. krn dia memerintahkan banyak kebutuhan pribadi dia yang jadi urusan pribadi dia pada OB kantor yang notabene dibayar kantor dan pekerjaannya pun numpuk. seperti ngambilin cucian dia di laundry, beli ini itu kebutuhan rumah tangga, etc etc

saat itu dia tersinggung. hingga selalu gak menganggap keberadaanku di kantor. apalagi yang bisa diambil dari seorang aku yang kampring dan hobby-nya protes atas ketidakadilan yang dia lakukan.

ada diskriminasi-diskriminasi jatah rumah tangga aku rasakan. dari mulai pembagian parcel lebaran, diskon2, etc etc. andai dia tau pasti bakal ngerasa sial banget krn aku nggak pikirin betul hal seputar jatah makan dan kesenangan, yang gak penting banget dipikiranku.

i really didnt care about her, at that time.

sering aku denger kabar miring dari kalangan pekerja keras di kantor soal dia, tapi sudahlah aku tak mau menanggapinya. walo suka agak kesel liat gayanya yang diskriminatif, kesibukan membuatku tak terlalu peduli dengan kondisinya.

dia bisa menikahkan dua anaknya secara meriah. seorang cowok dan seorang lagi cewek. hidup mereka terlihat mapan tanpa kesulitan.

sampe aku dengar kisah sedih itu dari seorang teman yang juga dulu bekerja di tempat sama beberapa pekan lalu.

kisahnya ternyata 'the old lady' itu sejak dulu sangat gemar gerakan 'gali lobang tutup lobang'. hingga kini mereka sudah menikah lebih dari 30 taon dengan dua anak dan beberapa cucu belum juga punya rumah. mereka pindah-pindah mengontrak rumah. padahal saat suaminya bekerja di ladang minyak di borneo, mereka sudah punya rumah. namun gaya hidup istri dan keluarganya membuatnya bangkrut hingga rumah itu dijual.

setelah pensiun, suaminya balik ke kota kami dan mendapati mereka memang tak punya apa2. mobil terjual sudah. sementara dua anaknya tak bisa diharapkan menjadi gantungan. cowok terbesar pegawai negeri dan pernikahan anak keduanya gagal, hingga dia sempat ketanggungan ngurus cucu sampe anak keduanya itu akhirnya mendapatkan suami baru.

aku masih sulit percaya jika membandingkan caranya 'meremehkan' banyak orang plus gaya 'elit'nya, dia bisa mengalami hal dramatis yang bisa jadi menjadi titik terendah dalam perjalanan hidupnya di masa tua. saat dia harus berangkat usai subuh pulang sangat larut, nomaden dari satu masjid ke masjid lain, ato dari rumah satu teman ke teman lain, bersama suaminya, hanya untuk menghindari 'debt collector' yang banyak mendatangi rumah kontrakan mereka.

sungguh hidup tak bisa ditebak kita akan menjadi apa kelak. yang jelas, pelajaran penting untuk tidak menjadi sombong dengan predikat dan materi apapun yang kita punya sangat aku yakini betul jadi penentu akhir hidup kita mau jadi apa.

terserah banyak orang nggak percaya karma. kadang tuhan berbaik hati memberikan karma itu sekarang di dunia untuk 'mencuci' lebih banyak dosa masa lalu, mungkin supaya kita tafakur dan cepat ingat kepada pemilik semuanya. mudah-mudahan rasa menyesal pernah menjadi aktor ato aktris 'jail' di masa lalu, bisa meredakan banyak hukuman di akhirat.

kisah ini bagiku pribadi sangat mengajak berpikir, kita bukan apa2. mo cantik, mo kaya, mo pangkat, mo jendral, itu semuanya cuma titipan. hanya dengan sejentik debu, semudah membalik telapak tangan, semua bisa berubah menjadi abu tak bermakna....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar