Selasa, 17 November 2009

kamis mendung

hari itu sungguh sangat mendung. saat seorang teman kehilangan bayi yang sudah dikandungnya selama tujuh bulan krn kelilit ari2.

duduk bersamanya di ruang persalinan rs santo yusuf bandung jadi makin menyesakkan. krn tangis yang berurai dan aku nggak nahan ikut meneteskan air mata juga, karena kerapnya dia memegang perut buncitku. sementara dia berbaring menunggu obat bekerja mengeluarkan jasad bayinya lewat persalinan normal.

nggak pernah jelas apa yang dimaui tuhan atas umatnya kalo emang kita nggak percaya betul di setiap kejadian pasti ada hikmah.

dia sangat menginginkan anak perempuan yang beratnya waktu lahir 1,3kg. krn hanya punya anak lelaki satu yang sudah berusia 16 taun. sayangnya, tuhan merasa harus memberikan nasib lain pada bayi perempuan.

aku tak bisa memberikan banyak hiburan hanya mengajaknya berpikir realitis. bayangkan saat dia melahirkan berusia 42 tahun, pada usia 55 tahun, bayi perempuan itu usia berapa? dan apakah anak lelakinya sanggup menjaga adik perempuannya? apakah kelak anak lelakinya punya istri yang cukup sabar berbagi kasih sayang dengan adik perempuannya? hanya tuhan tahu yang terbaik dan membahagiakan bagi anak perempuan itu.

inilah jalannya, saat suaminya tak terlalu menyukai kehadiran jabang bayi dalam kandungannya dan hanya bisa berkeluh kesah, resah mengingat kenapa mesti punya bayi lagi, berapa ongkos mesti dikeluarkan untuk persalinan, membiayai hidupnya dan tetek bengeknya?

roda nasib sudah dibuat tuhan dan selalu kita musti percaya itu ending story yang terbaik.

aku jadi inget si 'bebe' dalam kandungan, betapa sulitnya dia dibawa bekerja setiap hari, dengan tak cukup istirahat layaknya ibu2 hamil lain. tapi yaaa cuma berharap tuhan menjaganya sehat selalu dalam kandungan, menyempurnakan akhlak dan fisiknya kemudian. amiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar