tadi pagi pas liputan terima telpon dari istri mendiang sahabat suami yang kini jadi teman dekatku. pamitan mo menunaikan hajj.
sedih sekaligus bahagia membayangkannya. pasti dia seneng banget meski harus meninggalkan dua anaknya yang lucu di rumah.
ingatan masih oktober 2008, aku dan hubby pergi naik travel mengunjunginya di sebuah apartemen di deket tanah abang. tanpa air mata, dia ngobrol di kamar suaminya yang baru meninggal dan menunjukan kuburan basah yang kebetulan sekali gampang dipandang dari jendela apartemen mewah yang harga service sebulannya Rp 1 juta itu.
"dulu pas pindah ke sini, abi (sahabat suamiku) bilang, loh kuburan daddy ternyata keliatan dari sini (kuburan mertua lelakinya). wadoh jangan2 aku mati di sini. tapi itu aku kira hanya bercanda. ternyata beneran," tutur dia ketika itu.
kuburan suaminya itu menumpuk dengan kuburan mertuanya, pada akhirnya, setelah kesabaran penyakit jantung menjadi jihad terakhir bagi lelaki yang sedikit banyak berpengaruh dalam kehidupan suamiku kini.
dengan segala pengalaman melihat senang susahnya mereka saat tinggal di negeri paman sam, sampai akhirnya pulang ke tanah air, bergulat dengan banyak spekulasi pekerjaan sampe akhirnya mapan menjadi cerminan betul bagi aku dan hubby bagaimana memperlakukan manusia dan benda dalam hidup.
nggak selamanya banyak uang adalah enak, kadang banyak uang, banyak bisnis, mengurangi waktu buat ibadah, mengurangi waktu untuk keluarga, meski banyak kesenangan materiil tersedia. membuatku belajar bersyukur pula memiliki hubby macam itu :D
sepeninggal sahabatnya, hubby agak worry mengingat nasib kedua anak sahabatnya yang masih kecil-kecil. kedekatanku dengan istri sahabat hubby justru menguat setelah suaminya wafat.
aku kerap ke rumahnya dan pada akhir pekan kadang kami sekeluarga menjemput dua kurcaci bergabung dengan dua kelinci di rumah, main seharian.
sampai akhirnya mei kemarin, akhirnya dia memutuskan menikah lagi yang membuatku justru agak patah hati.
padahal di saat bersamaan, aku benar2 sedang merancang sebuah pernikahan lain untuk hubby. aku merasa 'jatuh hati' pada perempuan istri sahabat hubby itu sampai pada satu keikhlasan untuk berbagi suami dengannya. aku rasa aku bisa banyak belajar tentang aqidah dan gaya hidup ikhlas seperti yang dia jalani. aku pikir kita berdua bisa menjadi partner yang cocok untuk hubby.
aku promosikan dan sosialisasikan pada hubby bahwa aku ingin dia jadi madu-ku. hubby cuma mesem dan menolak halus krn khawatir nggak adil.
aku agak mendung saat tahu dia menikah dengan sahabat suaminya yang tinggal di paman sam.
tapi tak begitu lama aku sadari bisa jadi saat itu aku emosional dan bisa jadi alloh pikir kondisiku belum kuat benar harus berbagi suami. someday maybe yeaaah ? :P
dan tadi pagi saat dia telp hendak berangkat hajj, aku menelan tangis. terharu dan bahagia melihat dia mendapatkan 'rewards' kado pernikahan terbaik dari suami barunya, setelah banyak kesedihan dan ketidakjelasan nasib hidup dialaminya.
illegal hajj, begitu aku mencap kepergian haji-nya. bukan krn persoalan melanggar hukum tuhan. melainkan krn dia pergi haji bukan lewat jalur resmi yang ditetapkan pemerintah. dia janji bertemu suaminya di jordan, krn sudah punya visa dari saudi arabia untuk selanjutnya melanjutkan menuju jeddah.
smoga kepergiannya adalah kebahagian hakikinya mengunjungi tanah kelahiran nabi dan kalau sempat mencium ka'bah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar