terus terang kalo ngobrol2 sama ibu2 masa kini soal bagaimana merawat anak, pasti aku udah ketinggalan model deh :P
pasalnya dari mulai dokter specialis anak gak punya, anak kami pun tak diimunisasi seperti anak kebanyakan. cukup ditimbang tiap bulan di posyandu. sebuah kenyataan urdu buat kami berdua yang katanya punya ijasah lulus universitas.
tapi emang aslinya beginilah kami adanya. berusaha mengurangi kecanduan generasi masa kini terhadap obat-obat kimia dan mendorong pemakaian obat tradisional dengan cara logis.
karenanya kalau denger cerita temen2ku yang sibuk cari referensi dokter saat anaknya panas, batuk, pilek berkepanjangan gak sembuh-sembuh, kadang aku gak bisa kasi komentar.
pengalaman dengan anak pertama di dua dokter anak saat mencret berkepanjangan. dokter pertama yang ngurus dia pas lahir di rumah sakit memberi dosis obat mencret ruar biasa, malah tak meredakan mencretnya. untung ketemu dokter anak senior dengan sistem konsultasi di jalan cipaganti yang memberi kami refreshment kalo anak mencret bukan melulu krn masuk angin ato asi-nya basi, tapi ada faktor lain kebanyakan minum asi tanpa jeda juga buruk bagi anak. krnnya pas ke dokter itu, kita cuma bayar konsultasi 50rb trus, diberi saran menjeda pemberian asi 3 jam sekali, dan cuma dikasi resep obat buat ngobatin lecet di anusnya aja (kalo gak salah rp 1,500 gitu saat itu taon 2002)
logika merawat anak secara konvensional banyak kami kenal dari teman2 yang lebih dulu mempraktekannya juga orang tua kami, dan banyak orang-orang senior di sekitar kami tentunya. tapi ya itu, harus benar2 logis memilah mana mitos, mana yang masuk akal. itu nggak mudah krn bersinggungan dengan banyak kepercayaan orang di sekitar yang cenderung lebih percaya mitos heheheee
soal imunisasi? aku n hubby awalnya udah ragu bawa anak disuntik2 dan bahan kimia agar anti satu penyakit. alhamdulillah dapet penguatan informasi dari temen yang tinggal di US, dimana gerakan anti imunisasi dan vaksinasi gencar dilakukan banyak ibu rumah tangga dan banyak pula riset dilakukan yang memberikan korelasi logis tentang kelahiran banyak penyakit baru justru setelah imunisasi dikembangkan di dunia.
temen kami itu sama sekali tak percaya dengan imuniasasi yang lebih berbau permainan pasar global negara2 besar. smntara produk lokal, aku pernah denger dari temen di pabrik vaksin, beberapa vaksin dibiakan di darah monyet. halal ato haram?? terserah yang percaya, bukannya kita harus meninggalkan hal yang meragukan :P
aku cuma berusaha memberikan kecukupan gizi sama anak2 supaya imun terhadap perubahan cuaca, kualitas sanitasi yang nggak merata di lingkungan kami, tentunya dengan menjaga sedikit banyak kebersihan. mandi dua kali sehari, cuci tangan dan nggak lupa berdoa. gede sedikit diajarin sholat biar minimal lima kali sehari wajah, kaki, tangan yang terpapar debu bisa dibersihkan.
kalau panas pun (kadang orang bilang sbg tanda anak mau tambah pinter), kami nggak terlalu banyak pake obat turun panas. cukup berusaha menempelkan perut anak ke perut hubby (yang lebih rata dibanding aku) trus dibalut pake jaket ato slimut yang tebal, barulah transfer penyerapan panas bisa dilakukan. kalo emang anak masuk angin, maka biasanya dia langsung muntah2 dan keringatan banyak. abis itu insyaalloh panasnya turun.
paling banter kalo batuknya emang berat, kami bawa anak ke dokter langganan sejak kuliah di depan darul hikam dago. dokternya enak dan nggak ngasi obat seenaknya. sangat cermat dan sekaligus cocok buat semua orang serumah-rumah, tetangga juga kami rekomendasikan pada teman2.
oya...lupa, kakak pernah kena pneumoni waktu kecil, kami terapi pake terapi totok di dokter kenalan yang bawa metode totok dari jepang plus pengobatan herbal yang dia rekomendasikan. alhamdulillah sembuh, dia sehat dan gembil sekarang.
label nama dokter buat orang-orang muda seperti kami memang godaan, apalagi kalo sering didiskusikan kemudian disebut harga. tapi alhamdulillah punya hubby juga bukan orang yang hobby ke dokter dan sama2 konvensional. jadi kita sama sekali gak peduli dengan merk dokter. murah tur manjur jadi moto memilihnya :P
bukan sombong tapi hanya wujud syukur dari semua pengetahuan lain yang diberikan alloh selama ini. sejak berumah di kampung padat ini enam taun, beberapa wabah sudah dilalui dan kami nggak ketularan. dari beberapa kali kampung kami diserang wabah demam berdarah, cacar air, flu berkepanjangan sampai cikungunya, nggak satu pun anggota keluarga kena.
madu habbats merk arofah paling manjur menjaga stamina deh kalo buat kami sekeluarga.
cuma pas kemaren rame2 wabah batuk dan pilek panjang merajalela, aku dan si bungsu kena, langsung cari obat herbal di toko pandu, dapetlah obat batuk ibu anak. alhamdulillah hanya bbrp kali langsung sehat.
kadang nanya juga sehat emang mahal? ya mahalnya adalah pada meredam keinginan untuk hidup lebih sehat dan menyenangkan jiwa. terus terang, anak2 kami nggak nge-fans sama junkfood kayak mcD, KFC dan lain2. walo kami juga nggak terlalu melarang sesekali mereka boleh nyicipin. tapi taste makanan tradisional spt lotek, rujak, baso kampung, mie kocok, dll kami kenalin juga sbg pengimbang. dan ternyata mereka lebih suka yang tradisional yang banyak berserak di gerai dkiosk.
ini hanya sejumput pengalaman bagaimana kami belajar hidup merawat anak, mungkin bukan conto yang baik. krn bagaimanapun cara merawat anak adalah keputusan suami istri, tanpa kekompakan penuh dalam menentukan caranya, tentunya hanya akan saling menyalahkan pada akhirnya.
kadang pun kalo diminta saran buat meredam penyakit anak oleh teman2, aku kasi saran sederhana seperti yang biasa kami lakukan. ada yang cocok, ada juga yang enggak. ini kan bukan sebuah keharusan mengikuti omongan, toh kami bukan nabi ato rosul yang omongannya semua benar adanya hehee
yang kami rasa nyaman dan murah dengan cara ini pun tentunya belum tentu menjadi cara nyaman buat dijalani orang tua lain. yang cocok buat anak kami tentunya, belum tentu cocok buat orang lain.
namanya juga masih belajar hidup, trial error pasti kami hadapi :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar