ternyata aku nggak butuh banyak cara untuk mengetahui bagaimana pendapat kakak tentang aku. yang selama ini aku nggak terlalu memperhatikan kecuali dari mulut adiknya.
suatu kali aku pulang kemaleman. usai mengerjakan tugas 'lapangan' terus mampir sebentar mendengarkan curhatan seseorang. tapi saat hendak pulang, sekretaris bos menelpon memerintahkan aku menemani dinner dua teman yang baru pulang kerja laut dari singapura di the valley.
akhirnya aku memutar jalur pulang, mampir di kantor untuk bersama teman2 dan keluarga bos berangkat ke dago. tapi aslinya deg-degan banget, kebayang wajah kakak dan dede yang dijanjikan mendapati ibunya pulang sebelum maghrib.
pas makan juga rasanya nggak seenak kalo bareng hubby n dua gadis kecilku. too formal, blm lagi melihat bgm cara istri bos 'mendisiplinkan' anaknya yang membuat aku tersiksa melihat anak itu menangis hanya gara2 istri bos menyuruh anak itu duduk bareng bersama para tamu. padahal si anak ngadat pengen duduk di kumpulan kursi dekat dengan city light.
kalo aku dan hubby pasti cenderung mengikuti kehendak anak, krn mereka masih kecil dan bukan hal prinsip bgm memilih kursi. dia tidak sedang menawar untuk tidak sholat ato mengaji. sehingga aku agak risih waktu istri bos menakut-nakuti hendak memanggil satpam jika si anak nggak mau meredakan tangisnya.
aku inget kakak dan dede. karenanya, aku telp ke rumah hendak minta maaf dan sekedar bertanya mau oleh2 apa sbg pengganti rasa bersalah. eh yang ada kakak menjawab singkat,"kakak nggak mau apa2, kakak cuma mau ibu cepet pulang!!"
jawaban itu sungguh menyiratkan bahwa kehadiranku lebih penting ketimbang predikat ato oleh2 yang bakal aku bawa. nyaris menangis aku mendengarnya, jika tak sadar banyak orang di sekelilingku sedang terbahak2 cerita ngalor ngidul.
sosok lain aku di mata kakak kembali kutemukan di dalam buku catatan PR english-nya.
saat ditanya,"what is your mother?" jawabannya 'my mother is a best chef'
hahahahaaa ternyata kepake juga masakanku sama si kakak. setelah susah payah belajar selama ini. thanks for hubby yang menjadikanku percaya diri dengan masakan hasil karyaku sendiri. i learned much from him.
enaknya masakin buat hubby adalah dia nggak pernah 'nyacat' masakanku. kadang aku nanya, enak gak? uuuh enak banget, padahal kadang aku rasa keasinan ato kemanisan. dan banyak kata thank u terucap setelah makan masakanku. membuatku nyaman untuk berapresiasi menghasilkan banyak inovasi makanan dan mencoba resep baru. hingga akhirnya anak yang jadi 'kelinci percobaan' sebagai tester merasa harus memberikan gelar 'best chef' pada ibunya.
alhamdulillah ya alloh, nikmat itu nggak harus berbentuk uang atau penghargaan berupa piala dan banyak publikasi di media massa. hanya pengakuan akan keberadaan diantara orang2 tersayang rasanya sudah cukup membuatku merasa dibutuhkan dan berguna sebagai manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar