dengan perut buncit ini, pagi2 sebelum bekerja, aku sempatkan mampir di pengadilan agama mengambilkan formulir untuk teman lelakiku yang akhirnya bulat hendak menceraikan istrinya. karena memang dari rumahku, pengadilan itu terlewat rute kerja.
tak ada orang hamil rasanya diantara ratusan orang yang sesak seolah menerikan kata,"kita mau pisah, pisah, pisahhhh!!"
makanya begitu parkir, satpam langsung bertanya mau ndaftarin siapa,bu?
ya spontan aku jawab, adikku. krn memang teman lelakiku lebih muda 4 taon dariku.
sudahlah dia tunjukan letak loket pendaftaran. begitu masuk, semua mata nyaris tertuju padaku sebagai orang hamil yang dipikir mereka hendak menggugat suaminya yang emang keterlaluan :P
wajah-wajah bengong itu menjadi sebuah pemandangan lucu, begitupun seorang teman seprofesi yang terkaget memanggil namaku saat aku lewat di depannya. dia ternyata sedang mengantar kakak perempuannya beranak dua yang diceraikan suaminya. mereka masih sulit berselisih ttg harta gono gini.
ini bukan pertama aku berkunjung ke pengadilan agama, setelah pertengahan tahun 2008 lalu, aku menemani dan menjadi saksi bagi seorang teman perempuan yang hendak diceraikan suaminya yang hendak kawin lagi dengan perempuan lain. bedanya, dulu aku nggak buncit. itu aja.
ini adalah sebuah rasa berbeda ketika kumasuk ke pengadilan kali ini. karena aku berada di pihak lelaki, bukan perempuan. hanya berpikir, perempuan atau lelaki sama-sama berpotensi besar mengacaukan hubungan pernikahan. sehingga jangan selalu menyalahkan perempuan tak mengerti suami, atau lelaki yang dianggap hidung belang. semua kelamin berpotensi sama!!
proses bercerai sangat mudah buat teman lelakiku, krn tak ada anak dan harta gono gini. agak berbeda saat aku mendampingi teman perempuanku. dia punya anak, sehingga aku harus buatkan perjanjian hak dan kewajiban asuh anak yang ditandatangani dua orang yang hendak bercerai. setelah itu, aku mewakili pihak perempuan 'mendamprat' perlakukan mantan suaminya yang sangat tak sopan 'berjalan' dengan perempuan lain, tapi dengan kata2 yang harus tetap bijak dan elegan.
"apapun alasan kamu, kamu dulu sudah memilihnya menjadi istrimu dan sekarang kamu memutuskan memilih lagi orang lain. secara logika sudah nggak bisa dibenarkan, walau kamu merasa benar memperjuangkan hatimu. ingat-ingat saja, sudah ada anak sekarang. emosi kamu, emosi istrimu harus diredam untuk masa depan anak. sekarang jalani hidupmu, tapi jangan lupakan kewajibanmu pada anakmu. kalau ada bekas istri atau bekas suami wajar, nggak sedarah. tapi nggak pernah ada istilah mantan anak!" antara lain begitu wejangan terakhirku dengan rasa emosi dipendam habis, berusaha melupakan kesakitan teman perempuanku sendiri yang saat itu terus mendidihkan darahku sebenarnya.
kali ini, mungkin teman lelakiku akan menghadapi proses yang cepat dan mudah krn memang tak perlu ada perdebatan lagi.
"aku sudah nggak dianggap. dia pun bulat memutuskan bercerai. ya sudah apa lagi," ujar teman lelakiku.
aku cuma bisa memastikan temanku tak menyesal dan berusaha menenangkan emosinya yg masih labil dengan kalimat,"tenang saja, suatu hari justru dia yang akan menyesal, karena nggak akan bisa menemukan lelaki yang benar2 menerima dia apa adanya, kecuali kamu!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar