Rabu, 28 Juli 2010

buah simalakama

buah ini paling nggak enak. katanya kalo dimakan ibu mati, kalo gak dimakan, bapak yang mati.

ini cuma perumpamaanku buat kondisi yang hubby hadapi sekarang. betapa pengennya dia keluar kerja dan mencari pekerjaan lebih dekat dengan keluarga, tapi ya berat ninggalin banyak jejak dan mantan pacar --kaliiyaa-- di tempat kerjanya sekarang.

perhitungan waktu abis lebaran ini sangat menentukan bagi dia. tapi di luar dugaan, aku malah tenang banget. gak ngerasa deg-degan kayak kemarin-kemarin pas dia memutuskan untuk keluar. mungkin karena sekarang lagi sibuk memikirkan 'legenda' sendiri.

nyatanya hubby masih mempertimbangkan ikut mantan bosnya. karena satu faktor, pemimpinnya shalat atau gak shalat.

saya sih seterah aja yang akan menjalani. (bahasa formalnya)

ini bukan saat bagi saya untuk mendorongnya pada sebuah keputusan. melainkan memasrahkan semuanya pada tuhan yang kuasa yang lebih mengerti yang terbaik untuk kami.

sudah biasa tak berharap banyak. sudah terlalu biasa menghadapi semua kekosongannya lima hari dalam sepekan. sudah terlalu biasa juga menghadapi remeh temeh itu sendiri. heheee

menikah ya menikah, dia menyatukan dua pribadi dalam sebuah cawan cinta dan membuat persinggungan irisan dua lingkaran budaya hidup. tapi nyatanya bagi saya, menikah itu tetap harus membebaskan, tak mematikan satu sama lain. karena saya pun tak bersedia jadi orang lain, seperti saya tak menginginkannya jadi orang lain hehee

Tidak ada komentar:

Posting Komentar