Jumat, 12 Maret 2010

mematangkan pilihan jadi ftm

suatu saat aku pernah ditanya (tapi kukira lebih pada diberi nasihat) untuk memantapkan pilihan jadi 'full time mother'. dengan kondisi berbeda dengan sang penanya (pemberi nasihat), aku memilih tak menanggapinya maksimal.

dia anak orang kaya dengan tabungan banyak, bersuami kaya dan bergaji mantap. jelas dia lebih memilih jadi ftm. sementara aku lihat diriku, banyak masih butuhnya mengurus keluarga, dan sedikit menambal kebutuhan rumah tangga.

gak meragukan sedikit kuasa tuhan akan kehidupan manusia yang sudah mengatur hidup, jodoh, rezeki dan mati.

satu saat hubby pernah merasa kalau aku lebih bete full tinggal di rumah, dibanding jika mengurus rumah tangga sambil menyambi pekerjaan. selain itu, aku memang punya tanggungan keluarga yang kupikir sangat unfair jika aku nimbrung dengan keuangan rumah tanggaku yang dalam perjalanannya juga pernah mengalami masa-masa defisit dan perlu 'ditomboki'.

aku merasa pede akhirnya bekerja dan mengurus anak. walaupun di setiap fase bertambah anak ada kendala, aku selalu meminta petunjuk pada yang kuasa minta dicarikan jalan terbaik agar lebih banyak meluangkan waktu di rumah.

ada satu fenomena aneh yang terjadi pada temanku yang mempromosikan jadi ftm itu pada dua pekan kemarin. saat dia merasa goyah untuk menetapi pilihannya itu karena penurunan signifikan kemampuan ekonomi.

aku merasa tak perlu mengejeknya. aku menawarkan sedikit bantuan agar dia tetap tak goyah dengan pilihan yang menurutnya terbaik dibanding yang dilakukan ibu2 bekerja yang kerap 'menelantarkan' anak-anaknya. bantuan rahasia namanya.

sementara dalam perjalananku mematangkan jadi ftm yang bisa bekerja di rumah, kini seperti diberikan jalan keluar luar biasa. saat laju karier mendongkrak gaji hubby untuk bisa mengcover semua kebutuhan rumah tangga dan menabung, aku mulai menyurutkan peranku mencari uang. ndilalah tuhan menyediakan jalan agar aku lebih mematangkan profesi ideal dan sosial yang maaf, ini pun rahasia namanya.

setiap hari aku bisa bekerja maksimal dua jam, keluar rumah ngantor paling dua hari sepekan, mencoba prospek-prospek kerjasama untuk masa depan dan menjajal peluang menyiapkan masa pensiun hubby suatu hari kelak.

tak ada rencana taktis dalam hidupku, semuanya mengalir begitu saja sesuai dengan jalur yang disiapkan-Nya. aku manut sama jalan yang ditunjukan-Nya. yang kupikir-pikir sederhana saja utk pensiun hubby, selain menjalan expertise sesuai background study S2-nya yang harus dimulai sejak sekarang, dia bisa mengambil jenjang doktor jika sudah berusia lebih dari 40 dan 'ditendang' dari perusahaannya. sementara aku tetap 'ngopeni' anak-anak dan bekerja paruh waktu dengan maksimal. itu saja.

nggak ada rumusan apapun apalagi punya cita2 besar sebagai seorang yang ideal karena namanya manusia, berusaha dan berusaha saja, tak ada kerja yang selesai hanya dengan omong besarrr :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar