tersendat-sendat kembali ke dunia nyata, setelah bangun dari mimpi, menyadari sahabatku sudah tak bisa diajak curhat dan saling memotivasi biar tetap tegap menjalani hidup.
hanya ada hubby, tiga gadis kecil yang beranjak besar, dan kakak perempuanku yang jadi prioritas.
mulai menata hidup dengan banyak teman baik tersisa. menyadari semuanya fana, kini merancang hidup untuk 'hidup' setelah hidup.
banyak air mata sudah tumpah dengan perasaan tercabik-cabik. menemani hubby ke jatinangor untuk kasih materi. menyadari bahwa sahabatku pernah sangat hafal semuua sudut di kampus itu. menyadari semua yang pernah kita rasakan di tempat itu. sambil menyusui si bungsu di parkiran, aku masih saja menangis.
malu membayangkan belum sepenuhnya bisa jadi sahabat terbaik baginya. namun bahagia pernah mengenalnya sebagai orang terdekat, setelah hubby.
ibunya menawariku warisan barang-barangnya. aku menolaknya halus. aku bilang kalau aku akan sangat sedih memakainya. aku hanya ingin mengingatnya selalu di otak dan hatiku, tidak sekedar melekatkannya di kulitku.
hidupku masih harus berjalan dengan tegak, dengan atau tanpanya. mengasuh anak-anak, menemani hubby.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar