mamah d tetangga kami usianya sudah lebih dari 55 tahun. tekun ke pengajian di masjid-masjid. dia konon dulu mandor pabrik. sekarang kadang membantu kakakku mengurus trio macanku. tapi ya jarang-jarang banget. kalo butuh banget baru deh.
tadinya mau disertakan penuh mengasuh anak2. tapi kadang terlihat ogah (kalo lagi punya duit suka susah dicari, mau nyuruh juga sungkan)
suaminya sakit2an. anaknya dua lelaki, satu sudah menikah tapi hidup masih kekurangan (masih kerap minta sama ibunya utk menambal biaya hidup), yang kedua polio sejak kecil memilih profesi tukang ojek. untuk pertama kalinya, aku mempekerjakan difabel spt dia untuk antar jemput anak2 sekolah.
namanya hubungan tetangga kadang naik turun juga. kadang kita nggak ngerti kalo tiba2 dia menjauh. kadang juga nggak ngerti tiba2 dia datang ke rumah pagi2. bebas lah. dan saya merasa tak harus berprasangka apa2 sepanjang dia tak mengganggu hidup saya.
tibalah waktu suaminya sakit2an, baru keliatan sifat dasarnya. dia kerap meninggalkan suaminya untuk ngaji ke berbagai tempat, setengah menelantarkan si suami yang pasti ingin ditunggui dan dilayani saat sakit. sikapnya kasar terhadap suami, ternyata. jika tak ada uang, dia tak suka ada di rumah. kasian suaminya.
walo mamah d jadi jarang datang ke rumah, kalo pergi aku sempatkan belikan makanan lunak dari zupa sup, talam, bubur sumsum, dst utk suaminya. meskipun secara pribadi aku n hubby tak cocok dengan perangai suaminya yang kadang kalo disuruh kerja suka lelet sampe berhari2 hanya untuk satu pekerjaan dengan kecurigaan supaya ongkos tukangnya membengkak. dengan alasan kasian, kadang masih dipekerjakan juga utk pekerjaan2 kecil menggantikan posisi hubby. krn kadang hubby bilang kita kadang membeli jasa atau barang bukan atas dasar kebutuhan, tapi ada 'rasa' lain.
ya sudah lah. haruslah air tuba dibalas air susu. supaya air tuba habis tertumpah dan tersisa tinggal susu di gelas *pribahasangaco*
cerita beredar sesayup sampai tentang keruntuhan kemakmuran keluarga yang pertama kali punya rumah tembok dua lantai di gang rumah tinggal kami.
konon mamah d adalah mandor galak yang sangat setia menjaga aset majikan sehingga sangat tega menghardik atau melaporkan anak2 buahnya kepada si bos. belum lagi mulutnya yang selalu nyinyir terhadap anak buah. kejadian itu sudah 15 tahun silam, orang masih merekamnya di ingatan. karena kebetulan banyak tetangga adalah bekas anak buahnya. belum lagi cerita betapa sangat beraninya dia melawan suaminya krn lebih rendah pendidikan dan penghasilan yang kerap diperlihatkan dengan memarahi suaminya di depan para tetangga.
aku sama sekali tak berhubungan dengan dia di masa lalunya. kuanggap angin lalu saja. bagaimanapun kadang ada pesan lewat berbagai sikap yang kami tunjukan untuk menunjukan apresiasi atas perubahan sikapnya yang dulu 'reman' jadi ahli ngaji *walo dikritik abaikan suami*
dengan perhatian pada suaminya pun, saya hanya ingin mengingatkan bahwa 'orang lain saja peduli sama suamimu yang sakit, kenapa kamu tega pergi2an meninggalkannya sendirian'.
tak ada alasan memberikan penghukuman pada orang yang sedang berproses untuk menjadi baik. bukanlah lebih baik menjadi bekas orang jahat daripada menjadi bekas orang baik?
just another contemplation for me, indeed :P
Tidak ada komentar:
Posting Komentar